{"fatawa":{"id":10381,"title":"Hukum Keluarga Dari Istri Mewajibkan Kepada Suami Agar Membayar Harta Benda Untuk Mereka Baik Pada Saat Akad Nikah Atau Setelah Resepsi Pernikahan","slug":"hukum-keluarga-dari-istri-mewajibkan-kepada-suami-agar-membayar-harta-benda-untuk-mereka-baik-pada-saat-akad-nikah-atau-setelah-resepsi-pernikahan","order":"","question":"<p>Allah Ta&rsquo;ala berfirman dalam surat Al Qoshosh dengan Lisan Nabi Syu&rsquo;aib :  <br \/> \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0625\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u0623\u064f\u0631\u0650\u064a\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064f\u0646\u0652\u0643\u0650\u062d\u064e\u0643\u064e \u0625\u0650\u062d\u0652\u062f\u064e\u0649 \u0627\u0628\u0652\u0646\u064e\u062a\u064e\u064a\u064e\u0651 \u0647\u064e\u0627\u062a\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649  \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0623\u0652\u062c\u064f\u0631\u064e\u0646\u0650\u064a \u062b\u064e\u0645\u064e\u0627\u0646\u0650\u064a\u064e \u062d\u0650\u062c\u064e\u062c\u064d \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u062a\u0652\u0645\u064e\u0645\u0652\u062a\u064e \u0639\u064e\u0634\u0652\u0631\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652  \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u0650\u0643\u064e \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064f\u0631\u0650\u064a\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0634\u064f\u0642\u064e\u0651 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064e \u0633\u064e\u062a\u064e\u062c\u0650\u062f\u064f\u0646\u0650\u064a \u0625\u0650\u0646\u0652 \u0634\u064e\u0627\u0621\u064e  \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0627\u0644\u0650\u062d\u0650\u064a\u0646\u064e (\u0633\u0648\u0631\u0629 \u0627\u0644\u0642\u0635\u0635 : 27) <br \/> &ldquo;Berkatalah dia (Syu'aib): \"Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu  dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu  bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka  itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati  kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang  baik.\" (QS. Al Qashash: 27). <br \/> Terjadi kebiasaan di sebagian masyarakat lslam Asia yang mereka  mewajibkan kepada pengantin pria sejumlah harta yang nilainya cukup  besar ketika menikahi putri mereka, dan mereka berdalih dengan ayat  tersebut diatas !! Malah mereka mengembangkan perkara yang mereka buat  sendiri dengan meminta kepada suami dari putri mereka agar berkenan  membantu mereka dengan sejumlah uang dari waktu ke waktu (bukan hanya  sekali waktu saja), tanpa memperhatikan kondisi keuangannya, dan apabila  sang suami menolak maka serta-merta mereka akan mengambil putri mereka  dan memita kepada suaminya agar menceraikannya, kemudian mereka  mengarang dan menyebarkan cerita bahwasannya dia adalah lelaki yang  buruk dan tidak bisa melindungi dan menjaga putri mereka...dan yang lain  sebagainya. Dan semua perkara-perkara ini secara umum dan secara global  mengarah kepada permasalahan sosial yang membahayakan, seperti  terjadinya pembunuhan, perceraian dan berakhir kepada keputusan  pengadilan. Dan untuk memberikan solusi atas perselisihan ini maka sang  istri menuliskan daftar nama-nama yang patut atas suami untuk memberikan  nafkah kepada mereka ( Jika memang ada kelebihan harta bagi suami ).  Maka pertama kali yang ditulis adalah suami dan anak-anaknya, lalu kedua  orang tuanya, lalu sanak kerabatnya dari jalur ayahnya, baru kemudian  keluarga istrinya. Sungguh dia meletakkan keluarga dari istri pada  penghujung urut-urutan daftar nama, akan tetapi hal ini tidak membuat  sebagian dari mereka bisa menerima! dan mereka mengatakan sesungguhnya  syariat tidak membuat urut-urutan seperti ini !!. <br \/> Maka apa gerangan nasihat dari anda, dan apa yang dimaksud dengan firman Allah: <br \/> \u0639\u0644\u0649 \u0623\u0646 \u062a\u0623\u062c\u0631\u0646\u064a \u062b\u0645\u0627\u0646\u064a \u062d\u062c\u062c  <br \/> &ldquo;Atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun....&rdquo; ??<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah ...&nbsp;<\/p>\r\n<p>Pemahaman Syariah dibangun di atas      sunnah-sunnah yang datang secara mutawatir dari Nabi Shallallahu Alaihi      Wasallam yang langsung berdialog dan berkomunikasi dengan ummatnya dan      membimbing mereka dengan sunnah tadi apa yang terbaik dan membahagiakan      mereka, dan bukan didirikan di atas kejadian-kejadian tertentu yang      disesuaikan dengan kondisi-kondisi khusus atau syariat-syariat yang hanya      sebagian orang saja yang berpegang teguh kepadanya, yang kesemua itu      bertentangan dengan dalil-dalil nyata yang&nbsp; terdapat dalam konteks syariat      secara umum.&nbsp;<\/p>\r\n<p>Dan hal inilah yang nampak di hadapan kita      bahwasannya ada sekelompok orang yang &ldquo;Menjadikan mahal nilai mahar&rdquo; dari      kebiasaan mahar pada umumnya. Mereka menyalahi kesemua hadits-hadits Nabi      yang menganjurkan agar memberikan kemudahan dan keringanan dalam urusan      mahar, dan anjuran kepada para wali agar lebih mementingkan kemaslahatan      umum dari pada kemaslahatan pribadi, dan mereka mengambil argumen dengan      kisah pernikahannya Musa Alaihis Salaam dengan salah seorang dari putri Nabi      Syu&rsquo;aib, dan firman Allah :&nbsp;<\/p>\r\n<p>\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e          \u0625\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a      \u0623\u064f\u0631\u0650\u064a\u062f\u064f          \u0623\u064e\u0646\u0652      \u0623\u064f\u0646\u0652\u0643\u0650\u062d\u064e\u0643\u064e          \u0625\u0650\u062d\u0652\u062f\u064e\u0649      \u0627\u0628\u0652\u0646\u064e\u062a\u064e\u064a\u064e\u0651          \u0647\u064e\u0627\u062a\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650      \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649          \u0623\u064e\u0646\u0652      \u062a\u064e\u0623\u0652\u062c\u064f\u0631\u064e\u0646\u0650\u064a          \u062b\u064e\u0645\u064e\u0627\u0646\u0650\u064a\u064e      \u062d\u0650\u062c\u064e\u062c\u064d          \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652      \u0623\u064e\u062a\u0652\u0645\u064e\u0645\u0652\u062a\u064e          \u0639\u064e\u0634\u0652\u0631\u064b\u0627      \u0641\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652          \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u0650\u0643\u064e      \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627          \u0623\u064f\u0631\u0650\u064a\u062f\u064f      \u0623\u064e\u0646\u0652          \u0623\u064e\u0634\u064f\u0642\u064e\u0651      \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064e          \u0633\u064e\u062a\u064e\u062c\u0650\u062f\u064f\u0646\u0650\u064a      \u0625\u0650\u0646\u0652          \u0634\u064e\u0627\u0621\u064e      \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f          \u0645\u0650\u0646\u064e      \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0627\u0644\u0650\u062d\u0650\u064a\u0646\u064e          (\u0633\u0648\u0631\u0629      \u0627\u0644\u0642\u0635\u0635      : &nbsp;27(&nbsp;<\/p>\r\n<p>&ldquo;Berkatalah dia (Syu'aib): \"Sesungguhnya aku      bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas      dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan      sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak      hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk      orang-orang yang baik\". (QS. Al Qashash: 27).<\/p>\r\n<p>Disebutkan dalam &ldquo;Tafsir as Sa&rsquo;di&rdquo; (hal. 614)      : &ldquo;Engkau menjadi pegawaiku atau bekerja kepadaku (selama delapan tahun).&rdquo;      Dan tujuan yang dikehendaki ayat ini &ndash; sebagaimana yang ungkapan para ahli      fikih &ndash; adalah dibolehkannya seorang wali memberikan syarat berupa sesuatu      untuk dirinya ketika menikahkan putrinya, sebagimana madzhab Al Hanabilah,      dan penjelasannya telah diterangkan dahulu dalam fatwa nomor 2491&nbsp; .&nbsp;<\/p>\r\n<p>Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah pernah      ditanya :<\/p>\r\n<p>Apabila seorang wali menikahkan putrinya atau      saudara perempuannya dan mensyaratkan sesuatu untuk dirinya ?<\/p>\r\n<p>Beliau menjawab: Tidak dibolehkan yang      demikian selain ayahnya sendiri.<\/p>\r\n<p>Saya mengatakan: Karena kekuasaan seorang      ayah itu mencakup dalam hal harta benda anak-anaknya yang dibolehkan baginya      mengambil sekehendaknya.<\/p>\r\n<p>Beliau mejawab: Benar.<\/p>\r\n<p>Ishaq berkata: Itulah sebagaimana yang beliau      ungkapkan, yaitu selain ayah kandung tidak dibolehkan mensyaratkan sesuatu      untuk dirinya.&rdquo; Demikian      dinukil dari &lsquo;Masalah-masalah      Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaihi&rsquo;      (4\/1527).&nbsp;<\/p>\r\n<p>Berdasarkan hal itu, maka telah disebutkan      prinsip kita bahwasannya kita menguatkan (membenarkan) Madzhab Syafi&rsquo;iyyah      yang berpendapat tentang tidak dibolehkannya seorang ayah atau wali dan      lainnya mensyaratkan sesuatu untuk dirinya, dan yang demikian itu terdapat      dalam fatwa no. <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/140036\">140036<\/a>.&nbsp;<\/p>\r\n<p>Dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab      &lsquo;Al Mushannif&rsquo; (3\/327) mengatakan: &ldquo;Telah menceritakan kepada kami Isa bin      Yunus, dari al Auza&rsquo;i bahwasannya seorang lelaki menikahkan putrinya dengan      mahar sebesar seribu dinar, dan mensyaratkan untuk dirinya seribu dinar,      lalu Umar bin Abdul Aziz memutuskan bagi putrinya tersebut dua ribu dinar      tanpa diberikan kepada ayahnya.&rdquo;&nbsp;<\/p>\r\n<p>Dan bagi yang berprinsip mengambil pendapat      Al Hanabilah, maka hukum dibolehkannya di sini bukan berarti harus merubah      Sunnah nabawiyyah yang menganjurkan kemudahan dalam urusan mahar serta      menjauhi menjadikan sulit dan mahalnya harga sebuah mahar, maka sesungguhnya      sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tetap sebagai acuan yang asli, dan      tidak bertentangan dengan salah satu kejadian tertentu yang terjadi pada      syari&rsquo;at- syari&rsquo;at Nabi-nabi terdahulu yang masih membutuhkan pengejah      wantahan, dan untuk mengetahui dalil-dalil yang menerangkan akan anjuran      menjadikan ringan dan murahnya sebuah mahar harap bisa dilihat dalam      fatwa-fatwa no. <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/10525\">10525<\/a> dan <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/12572\">12572<\/a>.&nbsp;<\/p>\r\n<p>Terlebih lagi jika dari kalangan keluarga      istri menuntut kepada suami agar menafkahi mereka semuanya, atau memberikan      bantuan berupa uang atau harta benda lain dengan cara yang sedikit memaksa      atau dengan cara-cara yang sedikit malu-malu, kesemua ini merupakan bagian      dari hal yang haram dan merupakan harta benda yang haram yang Allah dan      Utusan-Nya mengharamkannya, Allah &lsquo;Azza wa Jalla berfirman :&nbsp;<\/p>\r\n<p>\u064a\u064e\u0627          \u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627      \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e          \u0622\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627      \u0644\u064e\u0627          \u062a\u064e\u0623\u0652\u0643\u064f\u0644\u064f\u0648\u0627      \u0623\u064e\u0645\u0652\u0648\u064e\u0627\u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652          \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652      \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0627\u0637\u0650\u0644\u0650          \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0627      \u0623\u064e\u0646\u0652          \u062a\u064e\u0643\u064f\u0648\u0646\u064e      \u062a\u0650\u062c\u064e\u0627\u0631\u064e\u0629\u064b          \u0639\u064e\u0646\u0652      \u062a\u064e\u0631\u064e\u0627\u0636\u064d          \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652      (\u0633\u0648\u0631\u0629      \u0627\u0644\u0646\u0633\u0627\u0621: 29)&nbsp;<\/p>\r\n<p>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu      saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan      perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. An Nisaa&rsquo;      \/ 29).<\/p>\r\n<p>Hadits riwayat Muslim ( 1218 ) dari hadits      Jabir bin Abdullah Radliyallahu Anhuma,      Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :&nbsp;<\/p>\r\n<p>\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651          \u062f\u0650\u0645\u064e\u0627\u0621\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652          \u0648\u064e\u0623\u064e\u0645\u0652\u0648\u064e\u0627\u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652          \u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u064c          \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652          \u060c          \u0643\u064e\u062d\u064f\u0631\u0652\u0645\u064e\u0629\u0650          \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652          \u0647\u064e\u0630\u064e\u0627          \u060c          \u0641\u0650\u064a          \u0634\u064e\u0647\u0652\u0631\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652          \u0647\u064e\u0630\u064e\u0627          \u060c          \u0641\u0650\u064a          \u0628\u064e\u0644\u064e\u062f\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652          \u0647\u064e\u0630\u064e\u0627      (\u0631\u0648\u0627\u0647          \u0645\u0633\u0644\u0645\u060c \u0631\u0642\u0645      1218)&nbsp;<\/p>\r\n<p>&nbsp;&ldquo;Sesungguhnya darah dan harta benda kalian      haram atas kalian, sebagaimana diharamkannya hari kalian saat ini, dalam      bulan kalian ini, dan di negara kalian ini &rdquo;&nbsp;<\/p>\r\n<p>Bahkan para Ulama Fikih Hanifiyyah menganggap      apa yang diambil dengan pola mewajibkan semacam ini merupakan kejahatan,      sesuatu yang menyakitkan dan suap yang diharamkan, sebagaimana disebutkan      dalam kitab Raudhul Mukhtar 3\/156:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Jika saudara lelakinya enggan untuk      memberikannya atau yang semacam itu sehingga dia mengambil sesuatu dari      mahar, demikian pula kalau dia enggan dan menolak untuk menolak      menikahkannya, maka jadilah sang&nbsp; suami diliputi keragu-raguan, apakah dia      hanya berdiri saja dan tinggal diam atau dia akan binasa ; karena harta      benda yang diminta merupakan suap.&rdquo;&nbsp;<\/p>\r\n<p>Dan demikianlah tidak ada seorang ulama pun      yang mengatakan bahwa nafkah seorang suami kepada keluarga istrinya wajib      baginya. Ketidakwajiban tersebut baik dalam tempo waktu yang dekat maupun      dalam tempo yang lama, dan menurut asal pensyari&rsquo;atan tidak ada yang      mendukung mereka tentang kewajiban seorang suami agar menafkahi mereka.      Tidak terdapat dalam kitab-kitab sunnah, fikih dan peninggalan salaf, maka      yang paling benar adalah menghapuskan nama-nama mereka dari daftar yang      telah anda susun. Adapun      menjadikan nama kerabat istri diakhir urutan daftar maka sesungguhnya      pemberian kepada mereka bukanlah hak bagi mereka dan yang demikian merupakan      kedzoliman yang nyata.&nbsp;<\/p>\r\n<p>Adapun berbagi dan berbuat baik kepada sesama      makhluk dengan memberikan sedekah makanan bagi yang membutuhkan dan menolong      mereka, maka hal ini masuk dalam bab lain di luar konteks yang      diperbincangkan oleh mereka, dan tidak ada yang menuntut untuk memenuhi yang      demikian itu karena tidak ada kewajiban bagi seseorang terhadap sesuatu yang      tidak diwajibkan oleh Syari&rsquo;at.&nbsp;<\/p>\r\n<p>Maka hendaklah mereka yang berusaha untuk      merobohkan bahtera rumah tangga anaknya dan saudara-saudara perempuannya      bertakwa dan takut kepada Allah, juga mereka yang berupaya untuk menjegal      kebahagiaan dan ketentraman hidup bersama suami-suami mereka, dan hendaklah      mereka sadar bahwasannya Allah Azza wa Jalla mengawasi dan memantau mereka,      dan Dialah yang akan menghisab mereka penghisaban bagi orang-orang yang      dzolim yang sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan Kelembutan, dan yang      tidak bisa memelihara kehormatan dan hak-hak orang lain.<\/p>\r\n<p>Wallahu A&rsquo;lam.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-03-28T20:51:59.000000Z","updated_at":"2015-03-28T20:51:59.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":40,"parent_id":10380,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u0627\u0644\u0635\u062f\u0627\u0642","category_slug":"","get_date":"2015-03-28"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/10381"}