{"fatawa":{"id":10385,"title":"Apabila Suami Telah Sepakat Dengan Para Wali Istri Atas Penangguhan Pembayaran Mahar Dengan Batas Waktu Yang Telah Ditentukan, Dan Akhirnya Suami Tidak Memenuhi Janjinya Maka Wajib Baginya Me","slug":"apabila-suami-telah-sepakat-dengan-para-wali-istri-atas-penangguhan-pembayaran-mahar-dengan-batas-waktu-yang-telah-ditentukan-dan-akhirnya-suami-tidak-memenuhi-janjinya-maka-wajib-baginya-mem","order":"","question":"<p>Apabila telah terjadi akad nikah dan antara suami-istri sepakat bahwa  suaminya akan memberikan maharnya pada waktu yang telah ditentukan, akan  tetapi sang suami tidak memuliakan kesepakatan yang telah dibuat dan  tidak membayarkan mahar pada waktu yang telah ditentukan, maka apa yang  harus dilakukan pada kondisi itu ? Dan apakah di sana ada yang  dinasehatkan terkait batasan waktu dilaksanakannya resepsi pernikahan ?<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah ...<\/p>\r\n<p>Pertama :&nbsp;<\/p>\r\n<p>Pada dasarnya sesungguhnya seorang istri      berhak mendapatkan maharnya secara sempurna hanya dengan halalnya hubungan      suami-istri, maka jika mereka mensyaratkan pada saat akad nikah selain yang      demikian semisal menangguhkan pembayaran mahar baik sebagiannya atau      keseluruhannya dengan batas waktu tertentu maka wajib bagi seorang suami      membayarnya pada saat sudah jatuh tempo.&nbsp; Lihat&nbsp; &ldquo;Fatawa al Lajnah ad      Daaimah&rdquo; (19\/56) &ldquo;Majmu Fatawa Wa Rosaail al Utsaimin&rdquo; (18\/30).&nbsp;<\/p>\r\n<p>Dan seorang suami apabila dia memiliki      kelapangan untuk membayar semua maharnya maka tidak dibolehkan menundanya,      dan hendaklah dia ingat firman Allah Ta&rsquo;ala :&nbsp;<\/p>\r\n<p>\u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0622\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0623\u064e\u0648\u0652\u0641\u064f\u0648\u0627      \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0639\u064f\u0642\u064f\u0648\u062f\u0650 (\u0633\u0648\u0631\u0629 \u0627\u0644\u0645\u0627\u0626\u062f\u0629 : 1     )&nbsp;<\/p>\r\n<p>&ldquo;Hai orang-orang yang      beriman, penuhilah akad-akad itu.&rdquo;      (QS. Al Maidah:     1).&nbsp;<\/p>\r\n<p>Dan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi      Wasallam:&nbsp;<\/p>\r\n<p>\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064f\u0648\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0634\u064f\u0631\u064f\u0648\u0637\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 (\u0631\u0648\u0627\u0647 \u0623\u0628\u0648      \u062f\u0627\u0648\u062f\u060c \u0631\u0642\u0645 3594 \u0648\u0635\u062d\u062d\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0644\u0628\u0627\u0646\u064a \u0641\u064a \"\u0635\u062d\u064a\u062d \u0623\u0628\u064a \u062f\u0627\u0648\u062f)&nbsp;<\/p>\r\n<p>&ldquo;Orang-orang Muslim sesuai dengan      syarat-syarat mereka.&rdquo; (HR.     Abu Daud,      no. 3594,     dan dishahihkan oleh      al Albani&nbsp; dalam Shahih Abu Daud)&nbsp;<\/p>\r\n<p>dan sabdanya yang lain:<\/p>\r\n<p>&nbsp;\u0623\u064e\u062d\u064e\u0642\u064f\u0651 \u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0648\u0652\u0641\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0627\u0644\u0634\u064f\u0651\u0631\u064f\u0648\u0637\u0650      \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064f\u0648\u0641\u064f\u0648\u0627 \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u062d\u0652\u0644\u064e\u0644\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0641\u064f\u0631\u064f\u0648\u062c\u064e     &nbsp;(\u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u0628\u062e\u0627\u0631\u064a\u060c \u0631\u0642\u0645 5151      \u0648\u0645\u0633\u0644\u0645\u060c \u0631\u0642\u0645 1418     )&nbsp;<\/p>\r\n<p>&ldquo;Yang      syarat-syarat yang      paling berhak kalian penuhi &nbsp;adalah      sesuatu yang menjadikan halal bagi kalian      kehormatan wanita.&rdquo; (HR.      Bukhari, no.     5151 dan Muslim,      no. 1418).&nbsp;<\/p>\r\n<p>Akan tetapi apabila kondisi sang suami dalam      kesulitan dan tidak memiliki harta untuk membayar maka hendaklah istri      memperhatikan kondisinya tersebut, tidak menuntutnya pada kondisi      kesulitannya, khususnya apabila dia tidak sedang membutuhkan harta benda,      dan hendaklah para wali juga bisa memahami perkara tersebut, maka seorang      suami bagaimanapun keadaannya dia lebih utama dan lebih dibutuhkan oleh      seorang istri . Demikian pula sebaliknya, betapapun berbeda kondisi      masing-masing, dan bukan sekedar karena telah habis batas waktu pembayaran      lalu kemudian sang istri atau salah satu dari anggota keluarganya menuntut      kepada suami agar melunasinya dan mendesaknya untuk segera melunasinya, akan      tetapi yang wajib dilakukan adalah ; pertama-tama melihat kondisi suami      apakah dia termasuk yang dilapangkan hidupnya ataukah termasuk dalam      kesulitan, dan apakah sang istri sangat membutuhkan harta tersebut ataukah      tidak ? Dan apakah memungkinkan bagi istri untuk bersabar tidak memintanya      ataukah tidak mungkin untuk bersabar ?&nbsp;<\/p>\r\n<p>Tidak diragukan lagi sesungguhnya      berinteraksi dengan penuh kebijaksanaan dalam perkara-perkara semacam ini      merupakan bagian terpenting dari tuntutan-tuntutan bagusnya pergaulan antara      suami dan istri, dan setiap masing-masing wajib untuk menjauhi melakukan      kedzaliman yang menyebabkan terjadinya kerugian satu sama lain, dan      hendaklah sebisa mungkin menghindarkan yang demikian tadi dan masing-masing      dari keduanya berusaha menutupi kebutuhannya &ndash; baik dalam hal pemberian      nafkah, kegigihan berusaha, pemberian kemakluman dan maaf &ndash; hingga      mendapatkan kebaikan dalam menjalani hidup dan saling menjaga pergaulan      dengan baik.&nbsp;&nbsp;<\/p>\r\n<p>Kedua :&nbsp;<\/p>\r\n<p>Kami nasehatkan agar segera melaksanakan      resepsi pernikahan dan tidak menundanya lagi sebagai bentuk optimalisasi      maksud dan tujuan pernikahan, dan guna menepis timbulnya problematika,      permasalahan-permasalahan atau bahkan perselisihan karena jarak yang lama      antara saat melamar dan dilangsungkannya akad nikah serta resepsi      pernikahan. Maka selama sudah maksimal persiapannya untuk menyongsong malam      pertama dan masing-masing dari kedua mempelai telah sempurna dalam      mempersiapkannya hendaknya disegerakan dalam hal tersebut dan tidak      menundanya lagi. Bisa melihat kembali fatwa soal no <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/10048\"> 10048<\/a>.<\/p>\r\n<p>Wallahu A&rsquo;lam.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-03-28T20:51:59.000000Z","updated_at":"2015-03-28T20:51:59.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":40,"parent_id":10384,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u0627\u0644\u0635\u062f\u0627\u0642","category_slug":"","get_date":"2015-03-28"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/10385"}