{"fatawa":{"id":10996,"title":"SISI PENGGABUNGAN ANTARA HADITS LARANGAN DARI TAHLIL (ORANG YANG MENIKAH WANITA AGAR HALAL DIKAWINI SUAMINYA YANG PERTAMA) DAN HADITS ISTRI RIFA\u2019AH","slug":"sisi-penggabungan-antara-hadits-larangan-dari-tahlil-orang-yang-menikah-wanita-agar-halal-dikawini-suaminya-yang-pertama-dan-hadits-istri-rifaah","order":"","question":"<p>Telah ada di Abu Dawud bahwa Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam bersabda;  &ldquo;Allah melaknat al-muhallil dan muhallil lahu.&rdquo; Al-Muhallil adalah orang  yang menikah wanita dengan tujuan agar halal untuk suaminya yang  pertama. Al-Muhallil lahu adalah suami yang pertama.  Telah ada di Ibnu Majah dari hadits Uqbah bin Amir radhiallahu&rsquo;anhu  sesungguhnya Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam bersabda: &ldquo;Saya akan  kabarkan kepada anda semua kambing pinjaman? Mereka (shahabat0 bertanya,  &lsquo;Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda; &ldquo;Yaitu Al-Muhallil. Allah  melaknat Al-Muhallil dan Al-Muhallal lahu.  <br \/> Ringkasan dari dua hadits ini, bahwa tahlil (mengawini wanita agar halal  dapat kawin dengan suami pertama) adalah haram dari sisi agama. Akan  tetapi sebaliknya kita dapatkan hadits lain dalam Sunan Abu Dawud, no.  2302 dalam kitab 12 dari hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu&rsquo;anha  sesungguhnya Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam ditanya tentang seseorang  yang telah menceraikan istrinya dengan talak tiga, kemudian wanita itu  menikah dengan lelaki lain dan diceraikan sebelum dikumpulinya. Apakah  diperbolehkan wanita tersebut kembali kepada suami yang pertama. Aisyah  radhiallahu&rsquo;anha berkata. Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam menjawab,  &lsquo;Tidak dihalalkan baginya sampai dia merasakan madunya dan (wanita)  merasakan madu lelaki (yakni suami kedua). Yang kami fahami dari hadits  ini, tahlil diperbolehkan dengan syarat  suami kedua menggaulinya.  Apakah ini tidak termasuk saling kontradiksi diantara dalil-dalil. Dalam  hadits pertama, dilaknat Al-Muhallil dan Al-Muhallal lahu. Dalam hadits  kedua, kami lihat masalahnya tidak mengapa. Apa pendapat anda tentang  hal itu?<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah<\/p>\r\n<p>Disana tidak ada      kontradiksi diantara hadits-hadits ini. Karena lelaki ketika menikah dengan      wanita yang telah dicerai tiga kali dengan maksud agar halal dinikahi dengan      suami pertama, maka pernikahan ini adalah haram. Ini yang dilaknat oleh      Rasulullah sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam kepada pelakunya. Sementara hadits      istri Rifa&rsquo;ah, di dalamnya tidak ada (larangan itu) bahwa Abdurrahman bin      Zubair ketika menikah bukan berniat tahlil (penghalalan untuk menikah dengan      suami pertama). Bahkan riwayat-riwayat hadits menunjukkan bahwa beliau      menikahinya dia ada keinginan untuk menahannya. Tidak diceraikan sekedar      meminta untuk bercerai. Akan tetapi (wanita) itu sendiri yang menginginkan      kembali ke suaminya yang pertama. Kemudian Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam      menjelaskan bahwa dia tidak dihalalkan hal itu sampai suami kedua      berhubungan dengannya. Wanita itu menyebutkan bahwa belum berhubungan dengan      suami kedua.<\/p>\r\n<p>Ini sebagian teks hadits istri Rifa&rsquo;ah yang diriwayatkan oleh      Bukhori, 2639 dan Muslim, 1433 dari Aisyah radhiallahu&rsquo;anha,<\/p>\r\n<p>: (\u062c\u064e\u0627\u0621\u064e\u062a\u0652      \u0627\u0645\u0652\u0631\u064e\u0623\u064e\u0629\u064f \u0631\u0650\u0641\u0627\u0639\u064e\u0629\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0631\u064e\u0638\u0650\u064a\u0651\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064e \u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e      \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e\u062a\u0652 : \u0643\u064f\u0646\u0652\u062a\u064f \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u064e \u0631\u0650\u0641\u064e\u0627\u0639\u064e\u0629\u064e \u0641\u064e\u0637\u064e\u0644\u0651\u064e\u0642\u064e\u0646\u0650\u064a \u0641\u064e\u0623\u064e\u0628\u064e\u062a\u0651\u064e \u0637\u064e\u0644\u064e\u0627\u0642\u0650\u064a      \u0641\u064e\u062a\u064e\u0632\u064e\u0648\u0651\u064e\u062c\u0652\u062a\u064f \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064e \u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0646\u0650 \u0628\u0652\u0646\u064e \u0627\u0644\u0632\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0631\u0650 . \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e : ( \u0623\u064e\u062a\u064f\u0631\u0650\u064a\u062f\u0650\u064a\u0646\u064e      \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0631\u0652\u062c\u0650\u0639\u0650\u064a \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0631\u0650\u0641\u064e\u0627\u0639\u064e\u0629\u064e \u061f \u0644\u064e\u0627 \u060c \u062d\u064e\u062a\u0651\u064e\u0649 \u062a\u064e\u0630\u064f\u0648\u0642\u0650\u064a \u0639\u064f\u0633\u064e\u064a\u0652\u0644\u064e\u062a\u064e\u0647\u064f \u060c      \u0648\u064e\u064a\u064e\u0630\u064f\u0648\u0642\u064e \u0639\u064f\u0633\u064e\u064a\u0652\u0644\u064e\u062a\u064e\u0643\u0650 ) .<\/p>\r\n<p>&ldquo;Istri Rifa&rsquo;ah AL-Quradhi      mendatangi Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam dan bertanya, &lsquo;Saya dahulu di      sisi Rifa&rsquo;ah, kemudian dia menceraikanku. Sehingga saya&nbsp; berpisah penuh      (karena) perseraian (tiga kali). Kemudian saya menikah dengan Abdurrahman      bin Zubair. (Nabi) bertanya, &lsquo;Apakah anda ingin kembali ke Rifa&rsquo;ah? Tidak      (bisa), sampai anda menikmati madunya dan dia menikmati madu anda      (berhubungan dengannya).<\/p>\r\n<p>\u0648\u0631\u0648\u0649 \u0645\u0633\u0644\u0645 (1433)      \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0627\u0626\u0650\u0634\u064e\u0629\u064e \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647\u0627 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e\u062a\u0652 : \u0637\u064e\u0644\u0651\u064e\u0642\u064e \u0631\u064e\u062c\u064f\u0644\u064c \u0627\u0645\u0652\u0631\u064e\u0623\u064e\u062a\u064e\u0647\u064f \u062b\u064e\u0644\u064e\u0627\u062b\u064b\u0627      \u0641\u064e\u062a\u064e\u0632\u064e\u0648\u0651\u064e\u062c\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0631\u064e\u062c\u064f\u0644\u064c \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0637\u064e\u0644\u0651\u064e\u0642\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0642\u064e\u0628\u0652\u0644\u064e \u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u062f\u0652\u062e\u064f\u0644\u064e \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u060c      \u0641\u064e\u0623\u064e\u0631\u064e\u0627\u062f\u064e \u0632\u064e\u0648\u0652\u062c\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0648\u0651\u064e\u0644\u064f \u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u062a\u064e\u0632\u064e\u0648\u0651\u064e\u062c\u064e\u0647\u064e\u0627 \u060c \u0641\u064e\u0633\u064f\u0626\u0650\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f      \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e : ( \u0644\u064e\u0627 \u062d\u064e\u062a\u0651\u064e\u0649      \u064a\u064e\u0630\u064f\u0648\u0642\u064e \u0627\u0644\u0652\u0622\u062e\u0650\u0631\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0639\u064f\u0633\u064e\u064a\u0652\u0644\u064e\u062a\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0627 \u0630\u064e\u0627\u0642\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0648\u0651\u064e\u0644\u064f     )<\/p>\r\n<p>Diriwayatkan oleh Muslim, 1433 dari Aisyah      radhiallahu&rsquo;anha berkata, &lsquo;Seseorang menceraikan istrinya tiga kali cerai.      Kemudian dia menikah dengan lelaki lain, kemudian dia diceraikan sebelum      berhubungan dengannya. Kemudian suami pertama ingin menikahinya lagi.      Rasulullah sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam ditanya tentang hal itu, maka beliau      bersabda: &ldquo;Tidak, sampai suami lain (kedua) menikmati madu (istrinya)      sebagaimana suami pertama.&rsquo;<\/p>\r\n<p>Jadi dalam hadits tidak ada      Abdurrahman menikahi dengan niatan tahlil (untuk menghalalkan menikah dengan      suami pertama). Akan tetapi wanita itu sendiri yang ingin kembali ke suami      pertama. Adanya niatan ini tidak menjadikan nikah ini menjadi nikah tahlil      (yang menghalalkan). Karena perceraian tidak ada kuasa di tangannya.<\/p>\r\n<p>Syeikhul Islam rahimahullah      berkata, &lsquo;Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam ketika memperbolehkan kembali ke      suami pertama ketika telah disetubuhi suaminya yang kedua, setelah terliaht      keinginan wanita itu kepada suami pertama, tanpa memperinci keinginannya ini      terjadi setelah akad (nikah) atau sebelum akad. Ha litu menunjukkan bahwa      kehalalan mencakup pada dua gambaran tadi. Karena wanita ketika senang      dengan suami kemudian diceraikan, terkadang masih banyak tersisa pada      dirinya kondisi-kondisi (kenangan tertentu). Para wanita kebanyakan tidak      menyukai perceraian, keinginan kembali kepada suami pertama lebih besar      diabndingkan bermuasyarah dengan lelaki lainnya.&rsquo; Selesai &lsquo;AL-Fatawa      Al-Kubra, 6\/301.<\/p>\r\n<p>Ibnu Abdul Bar rahimahullah      berkata, &lsquo;Sabda Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam kepada istri Rifa&rsquo;ah      &lsquo;Apakah anda ingin kembali ke Rifa&rsquo;ah&rsquo; bahwa keinginan wanita kembali ke      suaminya tidak merusak akadnya. Bahwa hal itu tidak termasuk tahlil yang      mana pelakunya mendapatkan laknat.&rsquo; Selesai. &lsquo;At-Tamhid, 13\/227.<\/p>\r\n<p>Ibnu Qayyim rahimahulah      berkata, &lsquo;Niatan istri dan wali tidak berpengaruh. Sesungguhnya pengaruh      (tahlil) itu dari pihak suami kedua, karena kalau dia berniat tahlil, maka      itu termasuk pelaku muhallil yang berhak mendapatkan laknat. Kemudian suami      yang menceraikan juga berhak mendapatkan (laknat juga) kalai dia kembali      kepadanya dengan nikah yang batil ini. Sementara kalau suami kedua dan suami      pertama tidak mengetahui di hati wanita atau walinya dari niatan tahlil,      maka hal itu tidak merusak akad sedikitpun. Sungguh Nabi sallallahu&rsquo;alaihis      salam telah mengetahui bahwa istri Rifa&rsquo;ah ingin kembali ke suami pertama,      hal itu tidak menjadikan penghalang kembalinya wanita ke suami pertama. Akan      tetapi yang menjadi penghalang adalah karena belum digauli oleh suami kedua      dengan mengatakan &lsquo;Sampai anda menikmati madunya dan dia menikmati madu      anda.&rsquo; Selesai &lsquo;I&rsquo;alamul Muwaqi&rsquo;in, 4\/45-46.<\/p>\r\n<p>Wallahu&rsquo;alam      .<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-04-12T20:51:59.000000Z","updated_at":"2015-04-12T20:51:59.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":43,"parent_id":10992,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u0627\u0644\u0623\u0646\u0643\u062d\u0629 \u0627\u0644\u0628\u0627\u0637\u0644\u0629","category_slug":"","get_date":"2015-04-12"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/10996"}