{"fatawa":{"id":11130,"title":"Apakah Menikah Dengan Wanita Yang Mandul Haram Hukumnya ?","slug":"apakah-menikah-dengan-wanita-yang-mandul-haram-hukumnya","order":"","question":"<p>Usia pernikahan bapak dan ibu saya sudah mencapai 25 tahun, sejak tiga  tahun yang lalu bapak saya menikahi seorang janda yang beragama hindu  dan menjadikannya sebagai seorang muallaf, sejak saat itulah kami banyak  mengalami masalah di rumah, janda tersebut mempunyai 2 orang anak dari  suami sebelumnya yang sudah meninggal dunia, masalahnya adalah isteri  kedua bapak saya tersebut sebelumnya bekerja pada satu tempat dengan  bapak saya, terdengar kabar sebelumnya bahwa bapak saya berpacaran  dahulu sebelum akhirnya menikahinya, kabar tersebut tidak mengetahui  kebenarannya kecuali Allah, wanita tersebut sebelumnya banyak  dibicarakan orang, dia juga mengenakan pakaian yang mencolok, tiga tahun  kemudian setelah menikah ciri khas keislamannya belum juga nampak, dia  juga masih mengenakan pakaian yang mencolok, dia juga melakukan stiril  (agar tidak bisa hamil) setelah melahirkan anak kedua dari suami  sebelumnya. Atas dasar itulah maka bapak saya menikahinya karena dia  mengetahui bahwa wanita tersebut tidak lagi bisa punya anak, pertanyaan  saya adalah: <br \/> Apakah pernikahan tersebut adalah sah ?, sebagaimana diketahui bahwa  Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- telah mengharamkan untuk menikahi  wanita yang tidak mungkin punya anak ?, jika jawabannya: ya,  bagaimanakah hukum dari kedua anaknya yang diberi nama Islam, keduanya  pun bersekolah di sekolah Islam ?, bagaimanakah sikap saya seharusnya  kepada ibu saya dan terhadap masalah ini ?<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah<\/p>\r\n<p>Pertama:<\/p>\r\n<p>Disebutkan dalam pertanyaan      anda bahwa bapak anda telah menikahi seorang janda yang beragama hindu dan      menjadikannya masuk Islam. Jika akad nikah dilaksanakan pada saat wanita      tersebut masih beragama hindu, kemudian baru masuk Islam setelah itu maka      pernikahan tersebut adalah batil. Diwajibkan bagi bapak anda untuk      mengulangi akad nikahnya lagi; karena Allah &ndash;Ta&rsquo;ala- mengharamkan seorang      muslim untuk menikahi wanita musyrik sampai masuk Islam terlebih dahulu,      Allah &ndash;Ta&rsquo;ala- berfirman:<\/p>\r\n<p>( \u0648\u064e\u0644\u0627 \u062a\u064e\u0646\u0652\u0643\u0650\u062d\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0634\u0652\u0631\u0650\u0643\u064e\u0627\u062a\u0650 \u062d\u064e\u062a\u0651\u064e\u0649 \u064a\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u0651\u064e )      \u0627\u0644\u0628\u0642\u0631\u0629\/221<\/p>\r\n<p>&ldquo;Dan janganlah kamu nikahi      wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman&rdquo;. (QS. Al Baqarah: 221)<\/p>\r\n<p>Namun jika akad nikahnya      dilaksanakan setelah dia masuk Islam maka pernikahan tersebut sah.<\/p>\r\n<p>Kedua:<\/p>\r\n<p>Tidak dibolehkan bagi bapak      anda untuk menikahi wanita yang sebagaimana anda gambarkan dalam pertanyaan      anda, syariat yang suci ini telah menganjurkan agar memilih wanita yang taat      beragama, cara berpakaian wanita tersebut yang mencolok dan mengundang      syahwat itulah yang menghalangi seorang muslim untuk tidak memilihnya, maka      menjadi kewajiban anda untuk menasehati bapak anda dengan cara yang baik dan      mengarahkannya agar berkomitmen kepada hukum-hukum Islam, yang di antaranya      adalah: menyuruhnya untuk memakai hijab dan berkomitmen kepada akhlak yang      mulia.<\/p>\r\n<p>Ketiga:<\/p>\r\n<p>Rasulullah &ndash;shallallahu      &lsquo;alaihi wa sallam- menganjurkan untuk menikahi wanita yang subur,      sebagaimana riwayat Anas bin Malik &ndash;radhiyallahu &lsquo;anhu- berkata: bahwa      Rasulullah &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- bersabda:<\/p>\r\n<p>(      \u062a\u064e\u0632\u064e\u0648\u0651\u064e\u062c\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u062f\u064f\u0648\u062f\u064e \u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u0644\u064f\u0648\u062f\u064e , \u0625\u0650\u0646\u0651\u0650\u064a \u0645\u064f\u0643\u064e\u0627\u062b\u0650\u0631\u064c \u0627\u0644\u0623\u064e\u0646\u0652\u0628\u0650\u064a\u064e\u0627\u0621\u064e \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e      \u0627\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0629\u0650 ) \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0623\u062d\u0645\u062f ( 12202      (<\/p>\r\n<p>&ldquo;Menikahlah kalian (dengan      wanita) yang penyayang dan subur, karena saya termasuk Nabi yang banyak      pengikutnya pada hari kiamat&rdquo;. (HR. Ahmad: 12202 dan dishahihkan oleh Ibnu      Hibban: 3\/338 dan al Haitsami dalam Majma&rsquo; Zawaid: 4\/474)<\/p>\r\n<p>Syamsuddin Abadi      &ndash;rahimahullah- berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Wadud&rdquo; adalah wanita yang      mencintai suaminya<\/p>\r\n<p>&ldquo;Walud&rdquo; adalah yang banyak      melahirkan.<\/p>\r\n<p>Kenapa harus dengan kedua      sifat tersebut, karena kalau wanita tersebut subur saja namun tidak      penyayang akan menyebabkan suaminya tidak mencintainya, penyayang saja namun      tidak subur maka tujuan menikah tidak tercapai, yaitu; memperbanyak umat      dengan banyak melahirkan, kedua sifat tersebut bagi wanita yang masih      perawan bisa diketahui melalui kerabatnya; karena secara umum tabiat kerabat      itu akan saling mengalir satu sama lainnya&rdquo;. (Aunul Ma&rsquo;bud: 6\/33-34)<\/p>\r\n<p>Rasulullah &ndash;shallallahu      &lsquo;alaihi wa sallam- telah melarang untuk menikahi wanita yang mandul,      sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ma&rsquo;qil bin Yasar &ndash;radhiyallahu &lsquo;anhu-      berkata: Seseorang telah mendatangi Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam-      maka beliau bersabda:<\/p>\r\n<p>\u0625\u0650\u0646\u0651\u0650\u064a \u0623\u064e\u0635\u064e\u0628\u0652\u062a\u064f \u0627\u0645\u0652\u0631\u064e\u0623\u064e\u0629\u064b \u0630\u064e\u0627\u062a\u064e \u062d\u064e\u0633\u064e\u0628\u064d \u0648\u064e\u062c\u064e\u0645\u064e\u0627\u0644\u064d \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0647\u064e\u0627      \u0644\u0627 \u062a\u064e\u0644\u0650\u062f\u064f \u0623\u064e\u0641\u064e\u0623\u064e\u062a\u064e\u0632\u064e\u0648\u0651\u064e\u062c\u064f\u0647\u064e\u0627 \u061f \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e : \u0644\u0627 \u060c \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0623\u064e\u062a\u064e\u0627\u0647\u064f \u0627\u0644\u062b\u0651\u064e\u0627\u0646\u0650\u064a\u064e\u0629\u064e      \u0641\u064e\u0646\u064e\u0647\u064e\u0627\u0647\u064f \u060c \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0623\u064e\u062a\u064e\u0627\u0647\u064f \u0627\u0644\u062b\u0651\u064e\u0627\u0644\u0650\u062b\u064e\u0629\u064e \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e : ( \u062a\u064e\u0632\u064e\u0648\u0651\u064e\u062c\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u062f\u064f\u0648\u062f\u064e      \u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u0644\u064f\u0648\u062f\u064e \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u0650\u064a \u0645\u064f\u0643\u064e\u0627\u062b\u0650\u0631\u064c \u0628\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0627\u0644\u0623\u064f\u0645\u064e\u0645\u064e ) \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u0646\u0633\u0627\u0626\u064a      ( 3227 )           \u0648\u0623\u0628\u0648 \u062f\u0627\u0648\u062f ( 2050               (<\/p>\r\n<p>&ldquo;Sungguh saya telah      mendapatkan wanita yang mempunyai kedudukan tinggi, cantik, namun dia      mandul, maka apakah saya melanjutkan untuk menikahinya ?, beliau bersabda:      &ldquo;Jangan&rdquo;. Kemudian dia mendatangi beliau untuk yang kedua kalinya, beliau      pun melarangnya, lalu dia mendatangi beliau untuk yang ketiga kalinya, maka      beliau bersabda: &ldquo;Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang, subur;      karena saya merasa bangga dengan umat yang banyak&rdquo;. (HR. Nasa&rsquo;i: 3227 dan      Abu Daud: 2050, dishahihkan oleh Ibnu Hibban: 9\/363 dan al Baani dalam      Shahih Targhib: 1921)<\/p>\r\n<p>Larang di atas bukan larangan      yang mengharamkan, namun larangan yang dibenci saja, para ulama telah      menyebutkan bahwa memilih wanita yang subur adalah mustahab (sunnah) bukan      wajib.<\/p>\r\n<p>Ibnu Qudamah dalam al Mughni      berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;..Dan disunnahkan untuk      memilih wanita yang dikenal dengan banyak anaknya&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Al Manawi berkata dalam      Faidhul Qadir (6\/9775): &ldquo;Menikah dengan wanita yang tidak subur adalah      makruh (dibenci bukan haram)&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Sebagaimana seorang wanita      dibolehkan untuk menikah dengan laki-laki yang mandul, demikian juga bagi      seorang laki-laki boleh menikah dengan wanita yang mandul&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Al Hafidz dalam al Fathu      berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Sedangkan orang yang tidak      mempunyai keturunan dan tidak tertarik kepada wanita dan jima&rsquo; maka bagi      orang tersebut hukum nikah adalah mubah, jika pihak wanitanya mengetahui dan      menyutujuinya&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Keempat:<\/p>\r\n<p>Adapun bahwa bapak anda      memberi nama anak tirinya dengan nama Islam dan mendaftarkannya di sekolah      Islam, keduanya merupakan perkara yang baik, patut diberikan apresiasi,      merubah nama-nama yang buruk dan asing menjadi nama-nama Arab dan Islam      merupakan perkara yang terpuji dan baik, anda bisa juga membaca jawaban soal      nomor: <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/23273\">23273<\/a>, <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/14622\">14622<\/a> dan     <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/12617\">12617<\/a>.<\/p>\r\n<p>Memasukkan mereka pada      sekolah Islam agar mereka mengenal ajaran Islam yang benar dan meyakininya,      menjadi harapan kita semua agar mereka menjadi muslim yang sholeh.<\/p>\r\n<p>Kelima:<\/p>\r\n<p>Anda wajib berbakti kepada      ibu anda, menjaganya dan membantu urusannya. Nasehatilah dia agar beliau mau      memberikan hak bapak anda, beliau tidak dibolehkan membantah perintah bapak      anda kecuali kalau dia menyuruhnya bermasiat kepada Allah &ndash;Ta&rsquo;ala-. Anda      juga wajib menasehati ibu tiri anda dan&nbsp; menuntunnya kepada jalan kebaikan,      demikian juga anak-anaknya, berusahalah dengan sekuat tenaga dan bantulah      mereka untuk mengenal Islam dan menerapkan hukum-hukumnya.<\/p>\r\n<p>Semoga Allah memperbaiki      keadaan keluarga anda, dan memberi petunjuk kepada mereka semua untuk      mentaati-Nya, dan menuntun anda untuk beribadah kepada-Nya dengan baik.<\/p>\r\n<p>Wallahu a&rsquo;lam.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-04-12T20:51:59.000000Z","updated_at":"2015-04-12T20:51:59.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":43,"parent_id":11126,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u0627\u0644\u0623\u0646\u0643\u062d\u0629 \u0627\u0644\u0628\u0627\u0637\u0644\u0629","category_slug":"","get_date":"2015-04-12"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/11130"}