{"fatawa":{"id":11139,"title":"Hukum Menikah \u2018Urfi (Secara Adat), Dan Apakah Boleh Bagi Mempelai Wanita Berpindah Dari Wali Yang Satu Ke Wali Yang lain?","slug":"hukum-menikah-urfi-secara-adat-dan-apakah-boleh-bagi-mempelai-wanita-berpindah-dari-wali-yang-satu-ke-wali-yang-lain","order":"","question":"<p>Di daerah kami banyak terjadi kerusakan moral, apalagi di kampus-kampus.  oleh sebab itu banyak mahasiswa yang ingin menikah sebelum mereka  lulus, akan tetapi keluarga besarnya menjadi penghalang utama pernikahan  mereka. Dilihat dari sisi mempelai laki-laki, kami pernah mendengar  mereka tidak perlu meminta restu kepada walinya, namun dari sisi wanita,  maka kami mencari jalan agar bisa maju untuk meminangnya, namun jika  wali wanita tersebut beralasan dengan alasan yang tidak Islami, sebagai  contoh: walinya berkata: &ldquo;saya tidak ingin kamu menikah sekarang karena  saya tidak tertarik dengan kabilahnya (sukunya), saya tidak senang  dengan celana, jenggot, atau agamanya&rdquo;. Jika ternyata calon mempelai  laki-lakinya termasuk seorang yang baik, dan walinya tidak  menyetujuinya, maka kami meminta kakek atau saudara laki-laki mempelai  wanita untuk menjadi walinya. Jika keduanya juga menolak, maka kami  tetap menyempurnakan pernikahan dengan restu kepala jamaah kami &ndash; Jamaah  Mahasiswa Muslim- Apakah perbuatan kami dibenarkan?  dan bagaimana cara  yang benar untuk menempurnakan pernikahan tersebut? saya berharap anda  menjelasan semuanya dalam masalah ini; karena merupakan jalan  satu-satunya, cara-cara seperti ini sekarang sedang marak terjadi di  sekitar kita, dan jika jalan tersebut salah maka bagaimanakah seharusnya  yang diperbuat oleh mereka yang sudah menikah dengan cara seperti itu,  sebagian mereka juga sekarang sudah mempunyai anak-anak ?<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah<\/p>\r\n<p>Pertama:<\/p>\r\n<p>Tidak dibolehkan bagi seorang      muslimah menikah tanpa persetujuan walinya, bahkan harus ada wali yang      menikahkannya, berdasarkan sabda Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- :<\/p>\r\n<p>( \u0644\u0627 \u0646\u0643\u0627\u062d \u0625\u0644\u0627 \u0628\u0648\u0644\u064a ) \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0623\u0628\u0648 \u062f\u0627\u0648\u062f (2085) \u0648\u0635\u062d\u062d\u0647 \u0627\u0644\u0634\u064a\u062e      \u0627\u0644\u0623\u0644\u0628\u0627\u0646\u064a<\/p>\r\n<p>&ldquo;Tidak ada pernikahan kecuali      dengan adanya wali&rdquo;. (HR. Abu Daud: 2085 dan dishahihkan oleh Syeikh Al      Baani)<\/p>\r\n<p>Dan sabda Rasulullah      &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- yang lain:<\/p>\r\n<p>( \u0623\u064a\u0645\u0627 \u0627\u0645\u0631\u0623\u0629 \u0646\u0643\u062d\u062a \u0628\u063a\u064a\u0631 \u0625\u0630\u0646 \u0648\u0644\u064a\u0647\u0627 \u0641\u0646\u0643\u0627\u062d\u0647\u0627 \u0628\u0627\u0637\u0644 \u0641\u0646\u0643\u0627\u062d\u0647\u0627 \u0628\u0627\u0637\u0644      \u0641\u0646\u0643\u0627\u062d\u0647\u0627 \u0628\u0627\u0637\u0644 ) \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u062a\u0631\u0645\u0630\u064a \u0648\u062d\u0633\u0651\u064e\u0646\u0647 ( 1102 ) \u0648\u0623\u0628\u0648 \u062f\u0627\u0648\u062f      ( 2083 )           \u0627\u0628\u0646 \u0645\u0627\u062c\u0647 ( 1879 ) \u0645\u0646 \u062d\u062f\u064a\u062b \u0639\u0627\u0626\u0634\u0629 \u060c \u0635\u062d\u062d\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0644\u0628\u0627\u0646\u064a \u0641\u064a \"\u0625\u0631\u0648\u0627\u0621      \u0627\u0644\u063a\u0644\u064a\u0644\" (1840(<\/p>\r\n<p>&ldquo;Wanita manapun yang menikah      tanpa persetujuan walinya maka pernikahannya batil, pernikahannya batil,      pernikahannya batil&rdquo;. (HR. Tirmidzi dan beliau menghasankannya: 1102, Abu      Daud: 2083, Ibnu Majah: 1879 dari hadits &lsquo;Aisyah, dishahihkan oleh al Baani      dalam Irwa&rsquo;ul Ghalil: 1840)<\/p>\r\n<p>Imam Tirmidzi dalam      penjelasannya tentang hadits di atas berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Dan yang mengamalkan hadits      di atas dari kalangan para sahabat Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- di      antaranya adalah Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas,      dan lain-lain. Demikian juga diriwayatkan dari sebagian ahli fikih di      kalangan para Tabi&rsquo;iin bahwa mereka berkata: &ldquo;Tidak ada pernikahan kecuali      dengan adanya wali&rdquo; di antara mereka adalah Sa&rsquo;id bin Musayyib, Hasan al      Basri, Syuraih, Ibrohim an Nakho&rsquo;i, Umar bin Abdul Aziz dan lain-lain. Dan      senada dengan pendapat di atas juga dinyatakan oleh Sufyan ats Tsauri, al      Auza&rsquo;i, Abdullah bin Mubarak, Malik, Syafi&rsquo;i, Ahmad dan Ishak&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Pada jawaban soal nomor:     <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/2127\">2127<\/a> ada akan mendapatkan ringkasan penting tentang      syarat dan rukun nikah, dan syarat-syarat seorang wali.<\/p>\r\n<p>Pada jawaban soal nomor:     <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/7989\">7989<\/a> juga terdapat rincian yang lain, secara khusus      disebutkan tentang persyaratan seorang wali untuk sahnya pernikahan.<\/p>\r\n<p>Kedua:<\/p>\r\n<p>Allah telah menyuruh para      wali agar mereka menikahkan wanita siapa saja yang berada di bawah      perwaliannya, dan janganlah menghalangi mereka untuk menikah karena sebab      yang tidak syar&rsquo;i, Allah &ndash;Ta&rsquo;ala berfirman-:<\/p>\r\n<p>)\u0648\u064e\u0623\u064e\u0646\u0652\u0643\u0650\u062d\u064f\u0648\u0627      \u0627\u0644\u0623\u064e\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0649 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0627\u0644\u0650\u062d\u0650\u064a\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0639\u0650\u0628\u064e\u0627\u062f\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0645\u064e\u0627\u0626\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0646\u0652      \u064a\u064e\u0643\u064f\u0648\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0641\u064f\u0642\u064e\u0631\u064e\u0627\u0621\u064e \u064a\u064f\u063a\u0652\u0646\u0650\u0647\u0650\u0645\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0641\u064e\u0636\u0652\u0644\u0650\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u0627\u0633\u0650\u0639\u064c      \u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0645\u064c ) \u0627\u0644\u0646\u0648\u0631\/32<\/p>\r\n<p>&ldquo;Dan kawinkanlah orang-orang      yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari      hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.      Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah      Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui&rdquo;. (QS. An Nuur: 32)<\/p>\r\n<p>Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa      sallam- juga telah menyuruh para wali agar tidak menahan diri untuk      menikahkan wanita yang berada di bawah perwaliannya pada saat ada peminang      yang baik agama dan akhlaknya datang meminangnya, beliau berdsabda:<\/p>\r\n<p>\u0625\u0630\u0627      \u062c\u0627\u0621\u0643\u0645 \u0645\u0646 \u062a\u0631\u0636\u0648\u0646 \u062f\u064a\u0646\u0647 \u0648\u062e\u0644\u0642\u0647 \u0641\u0623\u0646\u0643\u062d\u0648\u0647 \u0625\u0644\u0627 \u062a\u0641\u0639\u0644\u0648\u0627 \u062a\u0643\u0646 \u0641\u062a\u0646\u0629 \u0641\u064a \u0627\u0644\u0623\u0631\u0636 \u0648\u0641\u0633\u0627\u062f \u0639\u0631\u064a\u0636 )      \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u062a\u0631\u0645\u0630\u064a ( 1084 ) \u0648\u062d\u0633\u0651\u064e\u0646\u0647 \u060c \u062d\u0633\u0646\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0644\u0628\u0627\u0646\u064a \u0641\u064a \"\u0625\u0631\u0648\u0627\u0621 \u0627\u0644\u063a\u0644\u064a\u0644\"      (1868) .<\/p>\r\n<p>&ldquo;Jika ada peminang datang      meminang yang kalian (para wali) menyutujui agama dan akhlaknya maka      nikahkanlah mereka,&nbsp; karena kalau tidak maka akan terjadi fitnah di muka      bumi dan kerusakan yang nyata&rdquo;. (HR. Tirmidzi: 1084 dan menghasankannya,      dihasankan juga oleh al Baani dalam Irwa&rsquo;ul Ghalil: 1868)<\/p>\r\n<p>Pada setiap ayat dan hadits      yang yang telah disebutkan mengandung dua penjelasan yang nyata:<\/p>\r\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;     Bahwa      syari&rsquo;at telah menyuruh wali untuk menikahkan, hal ini menunjukkan bahwa      perintah tersebut berkaitan dengan kesempurnaan pernikahan tersebut dengan      hadir wali untuk menikahkan wanita yang berada di bawah perwaliannya dengan      peminangnya, hadits-hadits yang kami sebutkan sebelumnya telah menjelaskan      dan menguatkan pernyataan tersebut.<\/p>\r\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;     Bahwa      tidak dihalalkan bagi seorang wali untuk menghalangi dan menolak untuk      menjadi wali yang menjadi hak dari mempelai wanita dalam pernikahannya,      penolakan itu merupakan kedzaliman yang akan menyebabkan kerusakan yang      besar dalam agama dan dunia.<\/p>\r\n<p>Jika masing-masing dari      mempelai wanita dan walinya mengerjakan perintah tersebut maka akan      menyebabkan ketenangan keluarga, juga akan terhindar dari banyak keburukan      dan kerusakan dalam agama dan akhlak.<\/p>\r\n<p>Jika seorang wali menolak      untuk memberikan hak dari mempelai wanita dalam pernikahannya tanpa udzur      yang disyari&rsquo;atkan, maka boleh berpindah kepada wali yang lebih jauh,      seperti: saudara laki-lakinya yang tertua, atau pamannya dari jalur      bapaknya, atau kakeknya. Penentuan peralihan tersebut dilakukan oleh hakim      yang sesuai syari&rsquo;at, tidak dari pihak mempelai wanita atau para walinya.      Jika wali dari pihak mempelai wanita udzur semuanya maka boleh beralih      kepada wali hakim atau siapapun yang serupa dengannya. Sebagaimana yang      diriwayatkan oleh Aisyah &ndash;radhiyallahu &lsquo;anha- bahwa dia berkata: Rasulullah      &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- bersabda:<\/p>\r\n<p>(      \u0623\u064a\u0645\u0627 \u0627\u0645\u0631\u0623\u0629 \u0646\u0643\u062d\u062a \u0628\u063a\u064a\u0631 \u0625\u0630\u0646 \u0648\u0644\u064a\u0647\u0627 \u0641\u0646\u0643\u0627\u062d\u0647\u0627 \u0628\u0627\u0637\u0644 \u060c \u0641\u0646\u0643\u0627\u062d\u0647\u0627 \u0628\u0627\u0637\u0644 \u060c \u0641\u0646\u0643\u0627\u062d\u0647\u0627 \u0628\u0627\u0637\u0644 \u060c      \u0641\u0625\u0646 \u0627\u0634\u062a\u062c\u0631\u0648\u0627 \u0641\u0627\u0644\u0633\u0644\u0637\u0627\u0646 \u0648\u0644\u064a \u0645\u0646 \u0644\u0627 \u0648\u0644\u064a \u0644\u0647          (      \u0648\u0633\u0628\u0642      \u062a\u062e\u0631\u064a\u062c\u0647 \u0648\u062a\u0635\u062d\u064a\u062d\u0647      .<\/p>\r\n<p>&ldquo;Wanita manapun yang menikah      tanpa seizin dari walinya, maka pernikahannya batil, pernikahannya batil,      pernikahannya batil. Namun jika mereka berselisih maka sulton (penguasa)      yang menjadi wali bagi siapa saja yang tidak mempunyai wali&rdquo;. (Hadits ini      telah diteliti dan telah ditashih sebelumnya)<\/p>\r\n<p>Atas dasar itulah maka tidak      masalah bagi seorang wanita yang jika walinya menolak untuk memberikan      sesuatu yang menjadi hak wanita tersebut dalam pernikahannya, maka hendaknya      dia melaporkannya kepada hakim yang sesuai syari&rsquo;at agar dia menjadikan      kakek atau paman atau saudara laki-laki sulungnya yang menggantikan      perwaliannya.<\/p>\r\n<p>Yang terhormat Syeikh Sholeh      al Fauzan pernah ditanya tentang masalah yang tidak jauh berbeda dengan      masalah di atas, maka beliau menjawab:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Tidak boleh bagi seorang      wanita menikahkan dirinya sendiri, jika dia tetap saja menikahkan dirinya      sendiri maka pernikahan tersebut adalah batil menurut jumhur ulama terdahulu      juga menurut ulama sekarang; karena Allah telah menyuruh para wali untuk      menikahkan wanita yang berada di bawah perwaliannya, dalam firman-Nya:<\/p>\r\n<p>&rlm;( &rlm;\u0648\u064e\u0623\u064e\u0646\u0643\u0650\u062d\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0623\u064e\u064a\u064e\u0627\u0645\u064e\u0649 \u0645\u0650\u0646\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0627\u0644\u0650\u062d\u0650\u064a\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652      \u0639\u0650\u0628\u064e\u0627\u062f\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 )<\/p>\r\n<p>&ldquo;Dan kawinkanlah orang-orang      yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari      hamba-hamba sahayamu yang lelaki&hellip;&rdquo;. (QS. An Nuur: 32)<\/p>\r\n<p>Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa      sallam- bersabda:<\/p>\r\n<p>( &rlm;\u0625\u0630\u0627 \u0623\u062a\u0627\u0643\u0645 \u0645\u0646 \u062a\u0631\u0636\u0648\u0646 \u062f\u064a\u0646\u0647 \u0648\u062e\u0644\u0642\u0647 \u0641\u0632\u0648\u062c\u0648\u0647&rlm; )<\/p>\r\n<p>&ldquo;Jika telah datang kepada      kalian seseorang yang kalian menyetujui agama dan akhlaknya maka nikahkanlah      mereka..&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Sabda Nabi &ndash;shallallahu      &lsquo;alaihi wa sallam- yang lain:<\/p>\r\n<p>( &rlm;\u0644\u0627 \u0646\u0643\u0627\u062d \u0625\u0644\u0627 \u0628\u0648\u0644\u064a \u0648\u0634\u0627\u0647\u062f\u064a \u0639\u062f\u0644&rlm;(<\/p>\r\n<p>&ldquo;Tidak ada pernikahan kecuali      dengan adanya wali dan kedua orang saksi yang adil&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Sedangkan apa yang disebutkan      oleh penanya bahwa dirinya pernah membaca dalam sebagian buku-buku fikih      tentang seorang wanita yang menikahkan dirinya, maka pendapat tersebut      adalah pendapat yang marjuh (lemah), yang benar dan sesuai dengan dalil      adalah sebaliknya.<\/p>\r\n<p>Sedangkan apa yang dia      sebutkan tentang realita dirinya, bahwa dirinya mempunyai pandangan yang      berbeda dengan pandangan bapaknya; karena bapaknya menginginkannya menikah      dengan seorang suami yang berkedudukan tinggi dan berasal dari keturunan      terhormat hingga mampu menjaganya, namun keinginannya tidak demikian; karena      dia menginginkan suami yang taat beragama meskipun tidak mempunyai kedudukan      yang tinggi dan tidak berasal dari nasab yang terhormat. Di sini kebenaran      berada di pihak bapaknya, karena bapaknya pandangannya lebih jauh darinya,      karena bisa jadi dia terbayang bahwa laki-laki pilihannya tersebut cocok      untuk dirinya padahal sebenarnya tidak demikian. Maka tidak ada alasan      baginya untuk menyelisihi bapaknya selama beliaunya berfikir untuk      kemaslahatannya. Namun jika ternyata laki-laki yang satunya lebih baik      baginya, menanggungnya sesuai dengan kemampuan, kedudukan dan agamanya, dan      bapaknya enggan untuk menikahkannya, maka bapaknya tersebut baru dianggap      sebagai wali yang &lsquo;adhil (menghalangi) yang menjadikan perwaliannya      berpindah kepada wali yang lebih jauh, akan tetapi dalam kondisi seperti ini      harus menghadap kepada hakim dahulu agar dialah yang memindahkan perwalian      tersebut dari seorang bapak yang menghalangi pernikahannya kepada wali yang      lebih jauh dan tidak boleh diputuskan sendiri oleh mempelai wanita atau      salah seorang wali tanpa persetujuan bapaknya, maka harus menyerahkan      masalahnya kepada hakim yang syar&rsquo;i, dialah yang akan menilai masalah dan      realita yang terjadi. Jika akhirnya dia menilai pemindahan perwalian, maka      dia memindahkan perwalian tersebut demi kemaslahatan, maka dalam pernikahan      harus jeli dalam memutuskan segala sesuatunya&rdquo;. (Al Muntaqa min Fatawa      Syeikh Al Fauzan: 5\/242-243)<\/p>\r\n<p>Ketiga:<\/p>\r\n<p>Barang siapa yang menikah      dengan cara yang tidak disyariatkan, seperti menikahnya seorang wanita tanpa      adanya wali, maka pernikahannya menjadi rusak, dan mereka berdua wajib      dipisahkan segera, kalau sudah mempunyai anak, maka anak-anaknya dinisbahkan      kepada laki-laki yang menikahinya tersebut, jika mereka semua berpendapat      bahwa apa yang telah mereka lakukan tersebut boleh, namun jika mereka sudah      mengetahui akan kebatilan pernikahan tanpa wali, maka anak-anak mereka tidak      dinisbahkan kecuali kepada ibunya.<\/p>\r\n<p>Pernikahan batil tersebut      akan menyebabkan banyak kerusakan, di antaranya adalah:<\/p>\r\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Hilangnya hak-hak seorang wanita; karena tidak ada pengakuan sah dalam      pernikahan tersebut, dia tidak mendapatkan mas kawin juga tidak mendapatkan      nafkah.<\/p>\r\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Tersebarnya perbuatan nista dan kerusakan di tengah-tengah masyarakat,      khususnya pada masa perkuliahan, karena bisa jadi melalui akad nikah yang      rusak tersebut setiap wanita yang hamil, atau sepasang laki-laki dan      perempuan yang didapati di tempat umum mengaku sudah menikah dengan      pernikahan &lsquo;urfi (adat).<\/p>\r\n<p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;     Tidak      mungkin ditengah pernikahan dengan model tersebut nasab anak-anak bisa      ditentukan &ndash;sebagaimana yang telah kami sebutkan-, maka hal itu akan      menyebabkan mereka terlantar dan tidak jelas nasabnya.<\/p>\r\n<p>Jalan keluar untuk      memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan menghadap kepada walinya secara      terus terang dan menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi, kemudian      diadakan akad nikah yang baru melalui persetujuannya, namun jika dia tidak      setuju maka keduanya harus dipisahkan.<\/p>\r\n<p>Wallahu a&rsquo;lam.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-04-12T20:51:59.000000Z","updated_at":"2015-04-12T20:51:59.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":43,"parent_id":11137,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u0627\u0644\u0623\u0646\u0643\u062d\u0629 \u0627\u0644\u0628\u0627\u0637\u0644\u0629","category_slug":"","get_date":"2015-04-12"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/11139"}