{"fatawa":{"id":12357,"title":"Sepasang Suami Istri Bercerai Kemudian Kembali Lagi Apakah Suami Wajib Mengqadha\u2019 Hutang Pembagian Hari ?","slug":"sepasang-suami-istri-bercerai-kemudian-kembali-lagi-apakah-suami-wajib-mengqadha-hutang-pembagian-hari","order":"","question":"<p>Seorang suami mempunyai dua orang istri, dia banyak menghabiskan  waktunya bersama salah satu istri tersebut; karena penyakit yang  diderita oleh istrinya yang lain. Oleh karenanya istri yang sakit  tersebut mengajukan khulu&rsquo; (minta bercerai) karena didasari oleh udzur  syar`i (alasan yang dibenarkan syari`at), keduanya pun bercerai, setelah  selang beberapa waktu keduanya rujuk lagi. Apakah hak istrinya yang  sakit tadi menjadi piutang bagi suaminya ?<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah<\/p>\r\n<p>Pertama:<\/p>\r\n<p>Diwajibkan bagi seorang suami      untuk berlaku adil dalam hal pembagian hari di antara istri-istrinya.<\/p>\r\n<p>Ibnu Qudamah &ndash;rahimahullah-      berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Kami&nbsp; tidak mengetahui      adanya perbedaan di antara para ulama akan kewajiban pembagian hari yang      sama&rdquo;. (Al Mughni: 7\/229)<\/p>\r\n<p>Masalah ini telah dijelaskan      sebelumnya pada jawaban soal nomor: <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/10091\">10091<\/a> dan     <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/13740\">13740<\/a>.<\/p>\r\n<p>Kedua:<\/p>\r\n<p>Hak istri yang sedang sakit      tidak menjadi gugur, namun suami tetap wajib membagi hari kepadanya sama      dengan pembagian harinya pada saat sehatnya.<\/p>\r\n<p>Imam Syafi&rsquo;i      &ndash;rahimahullah-berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Hendaknya tetap bermalam di      rumah istri yang sedang sakit dan tidak bisa disetubuhi, sedang haid, atau      sedang nifas; karena bermalamnya suami di rumahnya merupakan bentuk kasih      sayang meskipun tidak ada jima` atau sesuatu yang disukai oleh istrinya dan      dia akan marah jika tidak dilakukan oleh suaminya&rdquo;. (Al Umm: 5\/188)<\/p>\r\n<p>Dan di dalam Kasyful Qana`      (5\/201) disebutkan:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Suami juga hendaknya membagi      hari kepada istrinya yang sedang haid, nifas atau sedang sakit; karena      tujuan pembagian tersebut adalah keberadaan suami, bermalam, dan      membahagiakannya. Seorang istri membutuhkan yang demikian tersebut&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Ketiga:<\/p>\r\n<p>Tidak seharusnya seorang      suami menceraikan salah satu istrinya sebelum dia memenuhi hak pembagian      hari yang menjadi kewajibannya; karena menceraikan pada kondisi seperti itu      menjadikannya tidak bisa lagi mendapatkan hak pembagian harinya.<\/p>\r\n<p>Ibnu Qudamah &ndash;rahimahullah-      berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Jika seorang suami membagi      hari kepada salah satu istrinya, kemudian menceraikan istri yang satunya      sebelum mendapatkan giliran harinya, maka dia telah berdosa; karena dia      menelantarkan haknya yang menjadi kewajiban suami untuk memenuhinya&rdquo;. (Al      Mughni: 7\/311)<\/p>\r\n<p>Zakaria al Anshori      &ndash;rahimahullah- berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Suami telah melakukan      maksiat dengan menceraikan istrinya yang belum mendapatkan haknya, setelah      ada kesempatan sebelumnya namun tidak dilaksanakan. Ibnu Rif`ah berkata:      &ldquo;Dianggap bermaksiat tersebut jika dia menceraikan istrinya tanpa bertanya      kepadanya terlebih dahulu, namun jika bertanya dulu maka tidak dianggap      bermaksiat&hellip; Bentuk pertanyaannya adalah hendaknya talak yang dijatuhkan      adalah talak bain (perceraian yang tidak bisa rujuk lagi). Adapun talak      raj`i (yang bisa rujuk lagi) tidak dianggap bermaksiat; karena memungkinkan      baginya untuk rujuk, bermalam, keduanya menjadi wajib dilakukan&rdquo;. (Asna al      Mathalib: 3\/236)<\/p>\r\n<p>Keempat:<\/p>\r\n<p>Jika pasangan suami istri      bercerai kemudian kembali rujuk kembali, maka diwajibkan bagi seorang suami      untuk mengganti hak-hak sebelumnya yang belum terpenuhi dalam hal pembagian      hari.<\/p>\r\n<p>Zakaria Al Anshori      &ndash;rahimahullah- berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Qadha` (mengganti) tidak      gugur dengan perceraian&rdquo;. (Al Ghurar al Bahiyyah: 4\/221)<\/p>\r\n<p>Ibnu Qudamah &ndash;rahimahullah-      berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Jika dia (istri) kembali      lagi ke suaminya, baik dengan rujuk atau dengan akad baru, maka pada saat      itulah waktu mengqadha` giliran harinya; karena dia ada kesempatan untuk      menunaikan haknya, maka wajib dilakukan, seperti halnya seseorang yang      sedang kesulitan dan tidak mampu bayar hutang, dia membayarnya setelah mampu      menunaikannya&rdquo;. (Al Mughni: 7\/311)<\/p>\r\n<p>Qadha` tersebut akan gugur      jika telah rujuk kembali dan istrinyalah yang menjadi penyebab tidak adilnya      pembagian hari; karena dia sudah tidak mempunyai hak lagi, kalau misalnya      ada istri-istrinya yang lain pun, qadha` pembagian hari pun tetapp gugur      juga.&nbsp;<\/p>\r\n<p>Zakariya al Anshori      &ndash;rahimahullah- berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Jika istri yang mau      ditunaikan haknya tidak bersama suaminya, maka tidak ada qadha`; karena dia      mengqadha` giliran hari bagi istri yang terdzalimi, dan karena istrinya yang      lain yang mengambil hak giliran istri yang terdzalimi&rdquo;. (Asna Mathalib:      3\/236)<\/p>\r\n<p>Jika seorang wanita sejak      awal sudah menggugurkan haknya yang telah berlalu atau menemukan titik temu      antar keduanya, maka tidak masalah; karena menjadi haknya dan telah      digugurkan; karena memperbaiki hubungan suami istri, meskipun dengan      menggugurkan sebagian hak yang wajib adalah sesuatu yang baik dicintai oleh      syari`at, Allah &ndash;Ta&rsquo;ala- berfirman:<\/p>\r\n<p>&ldquo;(\u0627\u0644\u0637\u0651\u064e\u0644\u064e\u0627\u0642\u064f      \u0645\u064e\u0631\u0651\u064e\u062a\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0645\u0652\u0633\u064e\u0627\u0643\u064c \u0628\u0650\u0645\u064e\u0639\u0652\u0631\u064f\u0648\u0641\u064d \u0623\u064e\u0648\u0652 \u062a\u064e\u0633\u0652\u0631\u0650\u064a\u062d\u064c \u0628\u0650\u0625\u0650\u062d\u0652\u0633\u064e\u0627\u0646\u064d \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062d\u0650\u0644\u0651\u064f      \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0623\u0652\u062e\u064f\u0630\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0645\u0651\u064e\u0627 \u0622\u062a\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f\u0645\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0634\u064e\u064a\u0652\u0626\u064b\u0627 \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u062e\u064e\u0627\u0641\u064e\u0627      \u0623\u064e\u0644\u0651\u064e\u0627 \u064a\u064f\u0642\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627 \u062d\u064f\u062f\u064f\u0648\u062f\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u062e\u0650\u0641\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064e\u0644\u0651\u064e\u0627 \u064a\u064f\u0642\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627 \u062d\u064f\u062f\u064f\u0648\u062f\u064e      \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062c\u064f\u0646\u064e\u0627\u062d\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627 \u0627\u0641\u0652\u062a\u064e\u062f\u064e\u062a\u0652 \u0628\u0650\u0647\u0650 \u062a\u0650\u0644\u0652\u0643\u064e \u062d\u064f\u062f\u064f\u0648\u062f\u064f      \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0639\u0652\u062a\u064e\u062f\u064f\u0648\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u062a\u064e\u0639\u064e\u062f\u0651\u064e \u062d\u064f\u062f\u064f\u0648\u062f\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0623\u064f\u0648\u0644\u064e\u0626\u0650\u0643\u064e \u0647\u064f\u0645\u064f      \u0627\u0644\u0638\u0651\u064e\u0627\u0644\u0650\u0645\u064f\u0648\u0646\u064e)               \u0627\u0644\u0628\u0642\u0631\u0629\/229(<\/p>\r\n<p>&ldquo;Talak (yang dapat dirujuki)      dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma`ruf atau      menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali      dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya      khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir      bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah,      maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri      untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu      melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah      orang-orang yang zalim&rdquo;. (QS. Al Baqarah: 229)<\/p>\r\n<p>Firman Allah yang lain:<\/p>\r\n<p>(\u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0650 \u0627\u0645\u0652\u0631\u064e\u0623\u064e\u0629\u064c \u062e\u064e\u0627\u0641\u064e\u062a\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0628\u064e\u0639\u0652\u0644\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0646\u064f\u0634\u064f\u0648\u0632\u064b\u0627 \u0623\u064e\u0648\u0652      \u0625\u0650\u0639\u0652\u0631\u064e\u0627\u0636\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062c\u064f\u0646\u064e\u0627\u062d\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064f\u0635\u0652\u0644\u0650\u062d\u064e\u0627 \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0635\u064f\u0644\u0652\u062d\u064b\u0627      \u0648\u064e\u0627\u0644\u0635\u0651\u064f\u0644\u0652\u062d\u064f \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064c) \u0627\u0644\u0646\u0633\u0627\u0621\/128<\/p>\r\n<p>&ldquo;Dan jika seorang wanita      khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa      bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian      itu lebih baik (bagi mereka)&rdquo;. (QS. An Nisa`: 128)<\/p>\r\n<p>Wallahu a`lam.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Website Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-04-21T20:52:00.000000Z","updated_at":"2015-04-21T20:52:00.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":45,"parent_id":12356,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u062a\u0639\u062f\u062f \u0627\u0644\u0632\u0648\u062c\u0627\u062a \u0648\u0627\u0644\u0639\u062f\u0644 \u0628\u064a\u0646\u0647\u0646","category_slug":"","get_date":"2015-04-21"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/12357"}