{"fatawa":{"id":12432,"title":"Beberapa Nasehat Bagi Yang Berpoligami Yang Mengeluhkan Kedua Istrinya","slug":"beberapa-nasehat-bagi-yang-berpoligami-yang-mengeluhkan-kedua-istrinya","order":"","question":"<p>Pertanyaan saya wahai Syeikh tentang bagaimana berinteraksi dengan  banyak istri saya, karena saya menikah dengan dua istri; dari istri  pertama saya mempunyai tiga orang anak, dia sekarang sedang hamil lagi.  Sedangkan istri kedua, saya baru menikahinya sejak tujuh bulan yang  lalu. <br \/> Pertanyaan saya: <br \/> Suatu ketika istri kedua saya berkata: &ldquo;Istri pertama anda berkata  kepada saya &ndash;sebagai bentuk nasehat kepada seorang saudari-: &ldquo;Kamu akan  menyesal karena menikah dengannya, saya banyak bersabar sejak sekian  lama, karena anak-anak saya&rdquo;. Istri keduanya saya berkata: &ldquo;Ada banyak  omongan yang dikatakannya tentang anda, akan tetapi saya banyak diam&rdquo;.  Saya katakana kepadanya: &ldquo;Tidakkah anda tahu bahwa yang demikian itu  termasuk ghibah ?, saya menasehatinya dan menjadikannya merasa takut  kepada Alloh. Bagaimanakah sikap yang seharusnya saya lakukan pada  kondisi seperti ini ?, padahal saya tidak menelantarkan siapapun dari  mereka berdua, saya berharap agar mereka bersaudara, saya berinteraksi  dengan mereka atas dasar hal tersebut, saya berusaha sebisa mungkin  untuk berlaku adil pada keduanya dalam hal nafkah pribadi, bermalam, dan  semua hal yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga bersama  keduanya, saya menyukai bepergian dan pulang bersama seperti satu  keluarga.<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah<\/p>\r\n<p>Pertama:<\/p>\r\n<p>Apa yang terjadi pada seorang      suami yang berpoligami dalam rumah tangga masing-masing istrinya adalah hal      yang wajar, Alloh telah memberikan fitrah kepada para wanita merasa cemburu      kepada madunya (istri suaminya yang lain), hal itu juga terjadi pada para      wanita yang agung, mereka adalah para ummul mukminin &ndash;radhiyallahu &lsquo;anhun-,      kami akan menyebutkan di sini dua kisah dari mereka &ndash;radhiyallahu &lsquo;anhun-:<\/p>\r\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Dari Anas bin Malik berkata:      &ldquo;Pada saat Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- bersama sebagian istri      beliau, salah seorang dari ummul mukminin mengirim satu piring makanan, maka      istri beliau yang pada saat itu beliau ada di rumahnya memukul tangan      pembantunya hingga piring tersebut terjatuh dan pecah, Nabi &ndash;shallallahu      &lsquo;alaihi wa sallam- pun mengumpulkan serpihan piring yang pecah dan juga      mengumpulkan makanan semula berada di piring tersebut, seraya bersabda:<\/p>\r\n<p>)\u063a\u064e\u0627\u0631\u064e\u062a\u0652      \u0623\u064f\u0645\u0651\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 )<\/p>\r\n<p>&ldquo;Ibu kalian sedang cemburu&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Kemudian beliau menahan      pembantu tersebut sampai beliau mengambil piring lain dari rumah istri yang      beliau ada di dalamnya untuk mengganti yang pecah dan menyerahkan piring      yang utuh kepada yang dipecahkan piringnya, dan memberikan piring yang pecah      kepada istri beliau yang memecahkan&rdquo;. (HR. Bukhori: 4927)<\/p>\r\n<p>Al Hafidz Ibnu Hajar      &ndash;rahimahullah- berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Mereka (semua yang      menjelaskan hadits di atas) berkata: &ldquo;Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa      tidak perlu memberikan sangsi kepada wanita yang sedang cemburu; karena pada      kondisi seperti itu akal sehatnya sedang tertutup dengan kemarahannya yang      menjadikannya cemburu. Abu Ya&rsquo;la telah meriwayatkan dengan sanad yang cukup      bisa diterima dari Aisyah sebagai hadits marfu&rsquo; berkata:<\/p>\r\n<p>( \u0623\u0646 \u0627\u0644\u063a\u064a\u0631\u0627\u0621 \u0644\u0627      \u062a\u0628\u0635\u0631 \u0623\u0633\u0641\u0644 \u0627\u0644\u0648\u0627\u062f\u064a \u0645\u0646 \u0623\u0639\u0644\u0627\u0647     (<\/p>\r\n<p>&ldquo;Sungguh wanita yang sedang      cemburu tidak mampu membedakan mana dasar dan mana puncak dari sebuah      lembah&rdquo;.<\/p>\r\n<p>(Fathul Baari: 9\/325)<\/p>\r\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Dari Anas bin Malik berkata:      &ldquo;Dahulu Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- mempunyai sembilan orang istri,      maka pada saat beliau membagi hari kepada masing-masing mereka tidak kembali      kepada istri beliau yang mendapat giliran pertama kecuali setelah      menyelesaikan sembilan hari. Semua istri beliau setiap malamnya berkumpul di      rumah istri beliau yang mendapatkan giliran bermalam. Pada saat itu beliau      sedang berada di rumah Aisyah, Zainab pun masuk dan beliau mengulurkan      tangan beliau kepadanya, maka Aisyah berkata: &ldquo;Ini adalah Zainab&rdquo;, maka Nabi      &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- menahan tangan beliau, lalu keduanya      berkonflik dengan suara keras, kemudian terdengar iqamah, Abu Bakar lewat      dan mendengar suara mereka berdua, maka beliau berkata: &ldquo;Keluarlah wahai      Rasulullah untuk menuju masjid dan tutuplah mulut mereka berdua dengan debu      (isyarat untuk menyelesaikan konflik mereka). Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa      sallam- keluar dan Aisyah berkata: &ldquo;Sekarang Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa      sallam- berangkat menuju masjid, Abu Bakar menghampiri Aisyah dan berkata      dengan perkataan yang keras: &ldquo;Apakah ini yang kamu perbuat ?!&rdquo;. (HR. Muslim:      1462)<\/p>\r\n<p>Imam Nawawi &ndash;rahimahullah-      berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Adapun bahwa Nabi      mengulurkan tangan beliau kepada Zainab, dan perkataan Aisyah: &ldquo;Ini adalah      Zainab&rdquo;, bahwa hal itu dilakukan secara tidak sengaja, yang beliau kira      adalah Aisyah yang menjadi pemilik giliran bermalam; karena kejadian itu      terjadi pada malam hari dan tidak ada lampu. Menurut pendapat lain, hal itu      beliau lakukan karena persetujuan mereka semua. Dalam hadits ini terdapat      pelajaran akan kebaikan akhlak Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- dan      mengayomi semuanya&rdquo;. (Syarah Muslim: 10\/47-48)<\/p>\r\n<p>Inilah beberapa contoh nyata      di antara para istri, padahal mereka adalah ummul mukminin &ndash;radhiyallahu      &lsquo;anhun- suaminya adalah Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam-, jadi bagi      siapa saja yang mau berpoligami, hendaknya dalam benaknya disiapkan akan      terjadi kecemburuan dan persaingan di antara istrinya dalam banyak hal, dan      hendaknya menjadikan Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam- sebagai qudwah      untuk menyelesaikan masalah, kalau tidak maka kehidupan rumah tangganya      tidak akan berlangsung lama.&nbsp;<\/p>\r\n<p>Masalah ini &ndash;wahai saudaraku      penanya- membutuhkan sikap yang bijak, kesabaran, mengakomodir keadaan para      istri dan kecemburuan yang Alloh titipkan kepada mereka.<\/p>\r\n<p>Imam adz Dzahabi      &ndash;rahimahullah- menukil perkataan dari al Mughirah bin Syu&rsquo;bah: &ldquo;Suami dari      satu istri, jika istrinya sakit maka dia juga sakit, jika sedang haid dia      pun ikut haid, adapun suami dengan dua istri berada di antara dua api yang      menyala&rdquo;. (Siyar &lsquo;Alam Nubala&rsquo;: 3\/31)<\/p>\r\n<p>Kedua:<\/p>\r\n<p>Yang perlu di antisipasi dari      para istri adalah bahwa bisa saja di antara mereka ada yang ingin lebih      mendekat kepada suaminya dengan memfitnah istrinya yang lain dan menjadikan      seorang suami membencinya. Yang perlu diperhatikan juga adalah menyebarkan      berita bohong tentang istrinya yang lain; agar suaminya jadi lebih      mencintainya atau akan lebih merasa bahagia pada malam harinya dari pada      dengan istrinya yang lain.<\/p>\r\n<p>Dari Asma&rsquo; bahwa seorang      wanita berkata: &ldquo;Wahai Rasulullah, saya mempunyai madu (istri suaminya yang      lain), apakah saya berdosa jika saya berhias secara berlebihan dengan      sesuatu yang bukan pemberian suami, maka Rasulullah &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa      sallam- bersabda:<\/p>\r\n<p>(      \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062a\u064e\u0634\u064e\u0628\u0651\u0650\u0639\u064f \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064f\u0639\u0652\u0637\u064e \u0643\u064e\u0644\u064e\u0627\u0628\u0650\u0633\u0650 \u062b\u064e\u0648\u0652\u0628\u064e\u064a\u0652 \u0632\u064f\u0648\u0631\u064d      ) .      \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u0628\u062e\u0627\u0631\u064a ( 4921 ) \u0648\u0645\u0633\u0644\u0645 ( 2130     (<\/p>\r\n<p>&ldquo;al Mutasyabbi&rsquo; (berlebihan      dalam berhias guna mengundang kemarahan istri suaminya yang lain) dengan apa      yang bukan menjadi pemberian suaminya sama dengan memakai dua baju      kepalsuan&rdquo;. (HR. Bukhori: 4921 dan Muslim: 2130)<\/p>\r\n<p>Imam Bukhori menulis salah      satu babnya dalam bukunya:<\/p>\r\n<p>\" \u0627\u0644\u0645\u062a\u0634\u0628\u0651\u0650\u0639      \u0628\u0645\u0627 \u0644\u0645 \u064a\u0646\u0644 \u060c \u0648\u0645\u0627 \u064a\u064f\u0646\u0647\u0649 \u0645\u0646 \u0627\u0641\u062a\u062e\u0627\u0631 \u0627\u0644\u0636\u0651\u064e\u0631\u0651\u064e\u0629      \" .<\/p>\r\n<p>&ldquo;Berlebih-lebihan dengan apa      yang tidak didapatnya, dan larangan untuk membanggakan diri di hadapan istri      suaminya yang lain&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Al Hafidz Ibnu Hajar      &ndash;rahimahullah- berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Mutasyabbi&rsquo; adalah mereka      yang berhias dengan sesuatu yang bukan menjadi miliknya, memperbanyaknya,      berhias dengan kebatilan, seperti seorang wanita dengan suaminya yang      mempunyai istri lagi selain dia, dia mengaku mempunyai kedudukan yang lebih      di hati suaminya dari pada istrinya yang lain, hal itu dilakukan untuk      memancing kemarahan istrinya yang lain.<\/p>\r\n<p>Adapun bentuk dua dalam      redaksi hadits:      ( \u062b\u0648\u0628\u064a      \u0632\u0648\u0631 )     &ldquo;dua pakaian      kedustaan&rdquo;, menunjukkan bahwa kedustaan orang yang berpura-pura ada dua      sisi; dia berdusta kepada diri sendiri karena belum mengambil apapun, dan      berdusta kepada orang lain karena mendapatkan apapun, demikian juga dengan      orang yang bersaksi palsu, ia mendzalimi diri sendiri dan mendzalimi yang      dipersaksikan. Tujuannya untuk menjauhkan wanita dari apa yang telah      disebutkan dan dihawatirkan akan merusak hubungan suami dan istrinya yang      lain dan menyebabkan kemarahan, hingga serupa dengan sihir yang memisahkan      suami dengan istrinya&rdquo;. (Fathul Baari: 9\/317-318)<\/p>\r\n<p>Ketiga:<\/p>\r\n<p>Apa yang anda inginkan &ndash;wahai      penanya- untuk menggabungkan kedua istri anda, dan menjadikan keduanya      seperti dua bersaudara adalah perkara yang baik, hal itu bisa saja menjadi      keinginan setiap mereka yang berpoligami, namun realitanya para istri yang      ada dalam berinteraksi dengan mereka akan ada kecemburuan dan persaingan      kepada anda yang menjadikan anda menyelesaikan masalah rumah tangga sesuai      dengan realita yang ada.<\/p>\r\n<p>Kami sampaikan beberapa      nasehat yang akan bermanfaat bagi anda &ndash;insya Alloh- , semoga bisa membantu      untuk menyelesaikan masalah anda, di antaranya adalah:<\/p>\r\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Jangan mendengarkan hanya      dari salah satu dari mereka tentang istri anda yang lain, sejak awal jangan      pernah berikan kesempatan untuk membicarakan apa yang terjadi antara dia      dengan istri anda yang lain.<\/p>\r\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Jika terjadi masalah pada      kedua istri anda, sebaiknya anda kumpulkan keduanya dalam satu tempat untuk      mendengarkan dari kedua belah pihak agar mengutarakan masing-masing      alasannya, dengan demikian akan banyak membantu mengurangi kedustaan dan      informasi yang dilebih-lebihkan dari mereka berdua.<\/p>\r\n<p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Jangan menampakkan kepada      salah satu istri anda tentang keburukan istri anda yang lain, jangan anda      sampaikan kepadanya apa yang terjadi antara anda dengan istri anda yang      lainnya, tidak juga tentang kebaikannya agar yang lain tidak menaruh rasa      iri dan cemburu kepadanya, tidak juga tentang keburukannya agar tidak      menghinakannya.<\/p>\r\n<p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Berusahalah untuk berlaku      adil pada semua hal yang anda mampu melakukannya, jangan pernah meremehkan      masalah ini, sampai dalam hal menurut anda tidak wajib dilakukan.<\/p>\r\n<p>Jabir bin Zaid berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Dahulu saya mempunyai dua      istri, maka saya berlaku adil kepada keduanya, sampai dalam masalah ciuman&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Mujahid berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Mereka dahulu menyukai untuk      berlaku adil kepada para istri mereka sampai-sampai pada masalah pemakaian      parfum, parfum untuk istri satunya sama dengan parfum untuk istrinya yang      lain&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Muhammad bin Sirin berkata:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Makruh hukumnya bagi seorang      suami berwudhu&rsquo; di rumah salah satu istrinya, namun tidak melakukannya di      rumah istrinya yang lain&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Ketahuilah bahwa keadilan      yang sempurna ini akan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di antara      para istri dari satu suami.<\/p>\r\n<p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Tidak apa-apa menggunakan      kekerasan pada hal-hal yang menurut anda sesuai kondisi dan situasinya. Kami      mengakui bahwa yang sempurna itu dalam kasih sayang dan keluwesan, namun      tidak semua orang bisa berbuat seperti itu, dan tidak semua orang bisa      mengambil dampak positifnya; oleh karena itu kadang-kadang suami boleh      menggunakan kekerasan kepada para istrinya jika dia melihat hal itu bisa      merubahnya menjadi lebih baik, seperti halnya Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa      sallam- menggunakan kasih sayang dan keluwesan dalam berinteraksi dengan      para istrinya, beliau juga kadang-kadang menggunakan kekerasan, sebagaimana      dalam hadits shahih bahwa beliau pernah menghajr (mendiamkan) para istrinya      selama satu bulan penuh beliau berada di luar rumah, tidak diragukan lagi      bahwa hal itu berat bagi mereka. Inilah merupakan sikap yang bijak, bukanlah      sikap&nbsp; bijaksana itu terus-menerus dengan kasih sayang dan perilaku lembut      saja, akan tetapi meletakkan sesuatu ada tempatnya yang sesuai, yaitu; obat      itu akan bermanfaat jika sesuai dengan dosis penggunaannya, baik dengan      keras atau dengan lembut.<\/p>\r\n<p>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Hal penting yang harus anda      lakukan adalah anda berjanji kepada para istri anda untuk mengarahkan,      memberi bimbingan dan nasehat agar meninggalkan persaingan untuk meraih      dunia dan perhisaannya, dan apa saja yang dilakukan untuk menggapainya,      seperti berbuat dusta, ghibah, mengadu domba, merusak hubungan rumah tangga,      maka hendaknya anda mengetahui hal ini, dan jangan meremehkannya, anda akan      melihat dampaknya &ndash;insya Alloh &ndash; kebahagiaan dan ketenangan bisa anda raih      dalam rumah tangga anda dengan kedua istri anda.<\/p>\r\n<p>Semoga Alloh memberikan      petunjuk-Nya kita semua menuju ridho-Nya, dan semoga Dia Alloh senantiasa      memberikan pertolongan dan menjaga keapada kita semua.<\/p>\r\n<p>Alloh Maha Pemberi Taufik.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-04-21T20:52:01.000000Z","updated_at":"2015-04-21T20:52:01.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":45,"parent_id":12430,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u062a\u0639\u062f\u062f \u0627\u0644\u0632\u0648\u062c\u0627\u062a \u0648\u0627\u0644\u0639\u062f\u0644 \u0628\u064a\u0646\u0647\u0646","category_slug":"","get_date":"2015-04-21"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/12432"}