{"fatawa":{"id":12456,"title":"Pernikahan \u201cMisyar\u201d, Definisi dan Hukumnya","slug":"pernikahan-misyar-definisi-dan-hukumnya","order":"","question":"<p>Ada soal yang masuk melalui website tentang pernikahan &ldquo;Misyar&rdquo;,  Bagaimanakah pernikahan dengan model ini ?, Apakah hukumnya halal atau  haram ?<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah<\/p>\r\n<p>Pertama:<\/p>\r\n<p>Nikah misyar adalah seorang      laki-laki menikah dengan wanita dengan akad yang sesuai dengan syari&rsquo;at,      rukun dan syaratnya pun sempurna, akan tetapi wanita tadi merelakan sebagian      haknya, seperti: tempat tinggal, nafkah dan giliran bermalam.<\/p>\r\n<p>Adapun sebab-sebab munculnya      pernikahan jenis ini adalah sebagai berikut:<\/p>\r\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Bertambahnya perawan yang sudah mulai lanjut usia, karena banyak pemuda yang      enggan menikah disebabkan mahalnya mas kawin dan biaya pernikahan, atau      disebabkan maraknya kasus perceraian, karena kondisi seperti ini sebagian      wanita merelakan dirinya menjadi istri kedua atau ketiga dan menggugurkan      sebagian haknya.<\/p>\r\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Kebutuhan sebagian wanita untuk tetap tinggal bersama di rumah keluarganya,      bisa jadi karena ia menjadi penanggung jawab tunggal di rumah tersebut, atau      ia memiliki cacat sedang keluarganya hawatir akan mendapatkan perlakuan di      luar kemampuannya, suaminya pun tidak bosan masih sering berkomunikasi      dengannya, atau karena ia mempunyai anak-anak dan tidak bisa pindah ke rumah      suami barunya, dan masih banyak lagi sebab-sebab yang lain.<\/p>\r\n<p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Keinginan sebagian laki-laki yang sudah menikah untuk menjaga kehormatan      sebagian wanita lain karena kebutuhan mereka akan hal itu, atau ia menikah      lagi karena kebutuhannya untuk sebuah kenikmatan yang dibolehkan, namun      tidak memperhatikan rumah tangga pertama dan anak-anaknya.<\/p>\r\n<p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Keinginan seorang suami untuk menyembunyikan pernikahan keduanya dari istri      pertamanya; karena hawatir akan merusak hubungan rumah tangga dengan istri      pertamanya.<\/p>\r\n<p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Banyaknya laki-laki yang bepergian ke luar negeri tertentu dengan waktu yang      cukup lama, dan bisa dipastikan bepergiannya tersebut jika ditemani istri      akan lebih aman dari pada sendirian.<\/p>\r\n<p>Inilah beberapa sebab-sebab      utama munculnya pernikahan jenis ini.<\/p>\r\n<p>Para ulama berbeda pendapat      tentang hukum pernikahan dengan jenis ini, dari mulai boleh, boleh tapi      makruh sampai ada yang mengatakan dilarang, yang perlu diperhatikan dalam      masalah ini adalah sebagai berikut:<\/p>\r\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;     Tidak      seorang pun ulama yang mengatakan bahwa pernikahan jenis ini bathil atau      tidak sah, namun mereka melarangnya karena akan menyebabkan kerusakan yang      berkaitan dengan si wanita yang seakan terhina, juga berkaitan dengan      masyarakat yang bisa jadi ada yang memanfaatkan akad nikah dengan jenis ini      dari kalangan wanita yang buruk akhlaknya untuk mengklaim bahwa orang yang      ia cintai adalah suaminya. Kerusakan itu juga berkaitan dengan anak-anak      karena mereka akan terlantar, pendidikannya pun tidak diperhatikan; karena      tidak adanya sang ayah.<\/p>\r\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Sebagian ulama yang membolehkannya justru merubah keputusannya dengan      tawaquf (diam tidak berpendapat), di antara ulama yang paling menonjol      mengatakan boleh adalah Syeikh Abdul Aziz bin Baaz dan Syeikh Abdul Aziz Alu      Syeikh. Dan di antara ulama yang paling menonjol mengatakan boleh kemudian      tawaquf adalah Syeikh al Utsaimin, dan yang terkenal melarang pernikahan ini      adalah Syeikh al Baani.<\/p>\r\n<p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;     Ulama      yang mengatakan boleh menikah dengan jenis ini, tidak menetapkan adanya      waktu tertentu seperti pada nikah mut&rsquo;ah, juga tidak mengatakan boleh tanpa      wali, karena menikah tanpa wali adalah bathil, mereka juga tidak mengatakan      boleh tanpa saksi dan pengumuman (walimah), bahkan hal tersebut harus ada.<\/p>\r\n<p>Ketiga:<\/p>\r\n<p>Pendapat para ulama dalam      masalah pernikahan ini adalah:<\/p>\r\n<p>Syeikh Ibnu Baaz      &ndash;rahimahullah- pernah ditanya tentang nikah misyar, pernikahan ini adalah      seseorang menikah lagi dengan istri kedua, ketiga atau keempat. Sang istri      tersebut berada dalam kondisi tertentu yang mengharuskan dirinya masih      tinggal bersama orang tuanya. Suaminya lah yang mengunjunginya secara      berkala juga karena kondisi tertentu tidak bisa selalu menemani istrinya,      bagaimanakah hukumnya menurut pandangan syari&rsquo;at dalam masalah ini ?<\/p>\r\n<p>Beliau menjawab:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Hal tersebut tidak masalah,      jika akad nikahnya terjadi dengan melengkapi syarat-syarat yang telah      ditetapkan oleh syari&rsquo;at, adanya wali, suami istri setuju, adanya dua orang      saksi yang adil, suami istri terhindar dari semua penghalang bolehnya      menikah, hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi &ndash;shallallahu &lsquo;alaihi wa      sallam- :<\/p>\r\n<p>( \u0623\u062d\u0642 \u0645\u0627 \u0623\u0648\u0641\u064a\u062a\u0645 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0634\u0631\u0648\u0637 \u0623\u0646 \u062a\u0648\u0641\u0648\u0627 \u0628\u0647 \u0645\u0627 \u0627\u0633\u062a\u062d\u0644\u0644\u062a\u0645 \u0628\u0647 \u0627\u0644\u0641\u0631\u0648\u062c )<\/p>\r\n<p>&ldquo;Syarat-syarat yang paling      berhak kalian penuhi adalah syarat-syarat yang dengannya dihalalkan bagi      kalian farj (kemaluan wanita)&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Dan sabda Nabi &ndash;shallallahu      &lsquo;alaihi wa sallam- yang lain:<\/p>\r\n<p>( \u0627\u0644\u0645\u0633\u0644\u0645\u0648\u0646 \u0639\u0644\u0649 \u0634\u0631\u0648\u0637\u0647\u0645 )<\/p>\r\n<p>&ldquo;Kaum muslimin itu      (tergantung dengan) syarat-syarat mereka&rdquo;.<\/p>\r\n<p>Jika pasangan suami istri      sepakat kalau istrinya tetap tinggal dengan orang tuanya, atau yang menjadi      gilirannya hanya pada siang hari, atau hanya pada hari-hari tertentu, atau      malam tertentu, maka hal ini tidak masalah, dengan syarat pernikahannya      diumumkan (dengan walimah) dan tidak sembunyi-sembunyi&rdquo;. (Fatawa Ulama Balad      Haram: 450-451, Jaridatul Jazirah, edisi: 8768, hari Senin, 18 Jumadal Ula      1417 H.)<\/p>\r\n<p>Namun sebagian murid-murid      beliau mengatakan bahwa beliau &ndash;rahimahulla- pada akhirnya mengatakan      tawaquf, hanya saja kami tidak menemukan pernyataan tertulis beliau untuk      ditetapkan.<\/p>\r\n<p>Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh      &ndash;hafidzahullah- juga pernah ditanya: &ldquo;Ada banyak pendapat tentang halal dan      haramnya nikah misyar, kami ingin penjelasan secara terperinci dalam masalah      ini, termasuk syarat dan kewajiban apakah yang harus dipenuhi jika      pernikahan tersebut dibolehkan ?<\/p>\r\n<p>Beliau menjawab:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Syarat-syarat nikah adalah      penentuan pasangan suami istri, keduanya setuju, adanya wali dah hadirnya      kedua saksi. Jika semua syarat tersebut terpenuhi dan diumumkan (tidak      sembunyi-sembunyi), tidak ada pesan baik dari pihak suami, istri atau wali      agar dilakukan secara diam-diam, diadakan juga walimah ursy, maka pernikahan      ini hukumnya sah, meskipun anda menamakan dengan nama apapun&rdquo;. (Jaridatul      Jazirah, edisi: 10508, Jum&rsquo;at Rabi&rsquo;uts Tsani 1422 H. )<\/p>\r\n<p>Syeikh Al Baani juga pernah      ditanya, namun beliau melarangnya dilihat dari dua sisi:<\/p>\r\n<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Tujuan menikah adalah tinggal bersama, sebagaimana firman Allah:<\/p>\r\n<p>( \u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652 \u0622\u064e\u064a\u064e\u0627\u062a\u0650\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062e\u064e\u0644\u064e\u0642\u064e \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0646\u0652\u0641\u064f\u0633\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652      \u0623\u064e\u0632\u0652\u0648\u064e\u0627\u062c\u064b\u0627 \u0644\u0650\u062a\u064e\u0633\u0652\u0643\u064f\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0645\u064e\u0648\u064e\u062f\u0651\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0631\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0629\u064b      \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0641\u0650\u064a \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u0644\u064e\u0622\u064e\u064a\u064e\u0627\u062a\u064d \u0644\u0650\u0642\u064e\u0648\u0652\u0645\u064d \u064a\u064e\u062a\u064e\u0641\u064e\u0643\u0651\u064e\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e ) \u0627\u0644\u0631\u0648\u0645\/21<\/p>\r\n<p>&ldquo;Dan di antara tanda-tanda      kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu      sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan      dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang      demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir&rdquo;. (QS.      Ar Ruum: 21)<\/p>\r\n<p>Pernikahan dengan jenis ini      tidak terlaksana tujuan tersebut.<\/p>\r\n<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;          Nantinya sepasang suami istri tersebut akan dikaruniai anak-anak, disebabkan      jarak yang berjauhan dan jarangnya bertemu, maka akan menyebabkan dampak      negatif kepada anak-anak mereka dalam hal pendidikan dan akhlak. (Baca:      Hukum Ta&rsquo;addud fi Dhaou&rsquo; Kitab was Sunnah: 28-29)<\/p>\r\n<p>Syeikh Ibnu Utsaimin      &ndash;rahimahullah- sebelumnya membolehkan pernikahan jenis ini, namun akhirnya      beliau tawaquf, karena prakteknya ada beberapa kerusakan yang ditimbulkan      oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab.<\/p>\r\n<p>Maka kesimpulan pendapat kami      adalah:<\/p>\r\n<p>&ldquo;Nikah misyar jika      syarat-syarat nikah yang benar terpenuhi, seperti ijab qabul, walinya      setuju, kedua saksi dan diumumkan, maka akad tersebut adalah sah. Akad jenis      ini boleh dilakukan oleh laki-laki atau wanita yang berada pada kondisi      tertentu yang menuntut untuk menikah dengan jenis ini. Oleh karena ada      sebagian orang yang lemah agamanya yang menyalahgunakan pernikahan ini, maka      menjadi sebuah kewajiban agar bolehnya nikah misyar ini tidak menjadi sebuah      fatwa untuk umum, namun dilihat kondisi masing-masing suami istri, jika      nikah misyar ini baik bagi mereka maka akad bisa dilanjutkan, namun tidak      maka sejak awal akad harus dicegah, sebagai pencegahan dari tujuan hanya      melampiaskan syahwatnya saja, dan meremehkan tujuan pernikahan yang lain,      juga untuk mencegah wanita yang mungkin bisa dipastikan akan menjadi istri      yang gagal dalam hidunya, jika suaminya misalnya meninggalkannya dalam kurun      waktu yang lama sampai berbulan-bulan, ia pun tinggal sendirian di apartemen      biasa membuka website, blog-blog, dan lain-lain dari dunia internet.      Bagaimana mungkin wanita semacam ini akan memanfaatkan waktunya sebaik      mungkin ?!, berbeda jika ia tinggal bersama keluarganya atau anak-anaknya,      ia pun memiliki agama (yang kuat), taat, menjaga kehormatannya, dan menjaga      diri dan sabar selama suaminya belum datang.<\/p>\r\n<p>Wallahu a&rsquo;lam.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-04-21T20:52:01.000000Z","updated_at":"2015-04-21T20:52:01.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":45,"parent_id":12454,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u062a\u0639\u062f\u062f \u0627\u0644\u0632\u0648\u062c\u0627\u062a \u0648\u0627\u0644\u0639\u062f\u0644 \u0628\u064a\u0646\u0647\u0646","category_slug":"","get_date":"2015-04-21"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/12456"}