{"fatawa":{"id":12755,"title":"HUKUM MENGGUNAKAN PIL PENCEGAH KEHAMILAN TANPA IZIN SUAMI","slug":"hukum-menggunakan-pil-pencegah-kehamilan-tanpa-izin-suami","order":"","question":"<p>Saya tinggal bersama suami saya dengan empat orang anak darinya. Akan  tetapi, sayang sekali, saya tersiksa dengan sikap keras sang suami dalam  memperlakukan kami semua, bahkan hingga sampai pada kekerasan fisik.  <br \/> Perlu diketahui bahwa saya sekarang berumur 40 tahun, dan anak-anak saya  yang empat dahulu mengalami gangguan medis ketika masih dalam kandung  di rahim saya. Karena itu, saya tidak ingin hamil lagi, akan tetapi sang  suami bersikeras agar saya hamil lagi dan sering mengancam saya dengant  talak.  <br \/> Apakah dibolehkan bagi saya untuk menggunakan alat pencegah kehamilan  tanpa izin suami? Para dokter telah menasehatkan dan memperingatkan saya  agar tidak hamil lagi karena mempertimbangkan kondisi kesehatan saya  ditambah penderitaan yang saya dan anak-anak alami. Saya tidak ingin  mendapatkan anak lagi. Perlu diketahui, sudah dua kali suami saya  mengacungkan pisau kepada kami?. Sang suami tidak memperhatikan kondisi  kesehatan saya, padahal dia telah melihat dengan mata kepala sendiri  kondisi kesehatan saya yang terus menurun serta penderitaan yang pernah  saya alami di RS.<\/p>","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah<\/p>\r\n<p>Yang layak diketahui bahwa      pada dasarkan kedua pihak suami istri      memiliki hak untuk mendapatkan kelahiran. Pihak suami tidak boleh melakukan      azal (mengeluarkan mani dari rahim) kecuali atas izin isterinya, dan isteri      tidak boleh menggunakan alat pencegah kehamilan kecuali dengan izin      suaminya.<\/p>\r\n<p>Lihat Al-Mausu'ah      Al-Fiqhiyyah, 3\/156.<\/p>\r\n<p>Ibnu Nujaim Al-Hanafi      berkata, \"Tindakan      wanita yang menutup katup rahimnya, sebagaimana yang dilakukan wanita untuk      mencegah kehamilan adalah haram apabila dilakukan tanpa izin suaminya,      diqiyaskan dengan tindakan azal suami tanpa izin isterinya.\" (Al-Bahr      Ar-Raiq, 3\/215)<\/p>\r\n<p>Sedangkan Al-Bahuti      Al-Hambali berkata, \"Al-Qadhi berkata, 'Tidak dibolehkan kecuali dengan izin      sang suami, karena suami memiliki hak untuk mendapatkan anak.\" (Kasyaful      Qana', 2\/96)<\/p>\r\n<p>Akan tetapi, jika didapatkan      alasan kuat bagi isteri untuk tidak melahirkan, misalnya jika kehamilannya      menimbulkan bahaya nyata baginya berdasarkan keterangan pada dokter      terpercaya, maka dalam kondisi seperti ini, gugurlah hak suami untuk      dimintakan izin. Karena kemaslahatan wanita untuk menjaga kesehatannya      didahulukan dari kemaslahatan suami dalam masalah melahirkan.<\/p>\r\n<p>Rasulullah shallallahu alaihi      wa sallam bersabda, \"Tidak boleh ada perkara yang membahayakan dan perbuatan      yang membahayakan.\" (HR. Ibnu Majah, 2340. Dinyatakan hasan oleh An-Nawawi      dalam kitabnya, Al-Azkar, hal. 502)<\/p>\r\n<p>Bahkan, para ulama      membolehkan bari wanita hamil menggugurkan kandungannya pada masa-masa awal      kehamilan jika hal tersebut berbahaya bagi kesehatannya. Lihat jawaban soal      no. 82851.<\/p>\r\n<p>Dalam fatawa Syekh Bin Baz      rahimahullah ta'ala disebutkan, (seseorang bertanya), \"Saya adalah seorang      isteri. Suamiku melarang aku mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Karena dia      tidak merasakan keletihan yang aku alami. Aku menderita. Aku telah      mengkonsumsi pil pencegah kehamilan tanpa izin sang suami. Apakah hal      tersebut bermasalah?<\/p>\r\n<p>Syekh menjawab: \"Jika mudah      bagi anda meninggalkannya (tidak mengkonsumsi pil tersebut) maka hal      tersebut lebih hati-hati. Adapun jika bahayanya besar, kesulitannya berat,      maka tidak mengapa. Kalau tidak, maka meninggalkannya lebih hati-hati.      Karena taat kepada suami adalah wajib, kecuali jika bahayanya besar dan      sulit bagi anda menanggungnya. Berdasarkan firman Allah Ta'ala,<\/p>\r\n<p>&nbsp;\u0641\u064e\u0627\u062a\u0651\u064e\u0642\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0645\u064e\u0627      \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0637\u064e\u0639\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652<\/p>\r\n<p>\"Bertakwalah kepada Allah      semampu kalian.\"<\/p>\r\n<p>(Majmu Fatawa Ibn Baz,      21\/183)<\/p>\r\n<p>Lebih utama bagi anda      berusaha bersama suami untuk mengambil kesepakatan dan saling pemahaman di      antara anda berdua. Seorang suami hendaknya memperhatikan kondisi isteru dan      keadaan kesehatannya.<\/p>\r\n<p>Syekh Ibnu Utsaimin      rahimahullah berkata, \"Seorang suami, jika melihat kehamilan isterinya akan      berakibat kondisi di luar kebiasaan, hendaknya dia mengizinkan sang isteri      mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Atau dia sendiri yang melakukan sesuatu      yang dapat mencegah kehamilan iserinya, sebagai bentuk kasih sayang      kepadanya, sampai sang isteri kuat menghadapi hal tersebut.\" (Fatawa Nur      Alad-Darb).<\/p>\r\n<p>Adapun perlakuan buruk suami      dan perangainya yang kasar, bukanlah alasan untuk tidak melahirkan. Boleh      jadi Allah menjadikan anak tersebut sebagai gantinya dan kebaikan yang      banyak. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,<\/p>\r\n<p>\u064a\u062e\u0652\u0631\u0650\u062c\u064f \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u064a\u0651\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u064a\u0651\u0650\u062a\u0650 \u060c      \u0648\u064e\u064a\u064f\u062e\u0652\u0631\u0650\u062c\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u064a\u0651\u0650\u062a\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u064a\u0651\u0650<\/p>\r\n<p>\"Dia yang mengeluarkan      sesuatu yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari sesuatu      yang hidup.\"<\/p>\r\n<p>\u0641\u064e\u0639\u064e\u0633\u064e\u0649 \u0623\u064e\u0646\u0652      \u062a\u064e\u0643\u0652\u0631\u064e\u0647\u064f\u0648\u0627 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0626\u064b\u0627 \u0648\u064e\u064a\u064e\u062c\u0652\u0639\u064e\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064b\u0627 \u0643\u064e\u062b\u0650\u064a\u0631\u064b\u0627 (\u0633\u0648\u0631\u0629 \u0627\u0644\u0646\u0633\u0627\u0621:     19)<\/p>\r\n<p>\"Boleh jadi engkau membenci      sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.\" (QS.      An-Nisa: 19)<\/p>\r\n<p>Wallaha'lam.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>","status":1,"created_at":"2015-04-23T20:52:01.000000Z","updated_at":"2015-04-23T20:52:01.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":46,"parent_id":12749,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u0627\u0644\u062d\u0642\u0648\u0642 \u0627\u0644\u0632\u0648\u062c\u064a\u0629","category_slug":"","get_date":"2015-04-23"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/12755"}