{"fatawa":{"id":5316,"title":"Apakah Sebaiknya Shalat Taraweh Seorang Diri atau Berjama\u2019ah? Apakah Khataman Al-Qur\u2019an Di Bulan Ramadan Adalah bid\u2019ah?","slug":"apakah-sebaiknya-shalat-taraweh-seorang-diri-atau-berjamaah-apakah-khataman-al-quran-di-bulan-ramadan-adalah-bidah","order":"","question":"Saya pernah mendengar bahwa sunnahnya seorang muslim dalam menunaikan shalat Taraweh adalah seorang diri sebagaimana yang dilakukan Nabi sallallahu \u2018alaihi wa sallam seorang diri setelah tiga hari (berjamaah). Apakah ini benar? Saya juga mendengar bahwa di antara (amalan) bid\u2019ah adalah membaca Al-Qur\u2019an semuanya pada shalat Taraweh di bulan Ramadan, karena Nabi sallallahu \u2018alaihi wa sallam tidak melakukan ini, apakah ini benar?","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\" style=\"text-align: center;\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Alhamdulillah.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Pertama: Shalat qiyam (Taraweh) disyariatkan pada bulan Ramadan, baik secara berjama&rsquo;ah maupun seorang diri. Pelaksanaan secara berjama&rsquo;ah lebih utama dibanding seorang diri. Terdapat riwayat yang telah tetap dalam&nbsp;<em>Ash-Shahihain<\/em>(Shahih Bukhari dan Muslim), sesungguhnya Nabi&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>menunaikan shalat dengan para shahabat beberapa malam. Ketika memasuki malam ke tiga &nbsp;atau keempat beliau tidak keluar (untuk menunaikan shalat) bersama mereka. Ketika pagi hari beliau bersabda:<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0645\u0652\u0646\u064e\u0639\u0652\u0646\u0650\u064a \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0627\u0644\u0652\u062e\u064f\u0631\u064f\u0648\u062c\u0650 \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0644\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0651\u0650\u064a \u062e\u064e\u0634\u0650\u064a\u062a\u064f \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064f\u0641\u0652\u0631\u064e\u0636\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652. (\u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u0628\u062e\u0627\u0631\u064a\u060c \u0631\u0642\u0645 1129 \u060c \u0648 \u0641\u0649 \u0644\u0641\u0638 \u0645\u0633\u0644\u0645\u060c \u0631\u0642\u0645 761) \u0648\u0644\u0643\u0646\u0649 \u062e\u0634\u064a\u062a \u0623\u0646 \u062a\u0641\u0631\u0636 \u0639\u0644\u064a\u0643\u0645 \u0627\u0644\u0644\u064a\u0644 \u0641\u062a\u0639\u062c\u0632\u0648\u0627 \u0639\u0646\u0647\u0627.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">&ldquo;Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (menunaikan shalat) bersama kalian semua, melainkan &nbsp;aku khawatir dia (qiyam) akan diwajibkan kepada kalian.&rdquo; (HR. Bukhari, no. 1129)<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Dalam redaksi Muslim, no. 761, (Beliau bersabda), &ldquo;Akan tetapi aku khawatir (qiyamul lail) diwajibkan kepada kalian, sehingga kalian tidak &nbsp;mampu (melaksanakannya).&rdquo;<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Telah tetap bahwa berjama&rsquo;ah dalam Taraweh ada sunnah Nabi&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>, dan Nabi&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>&nbsp;telah menyebutkan bahwa penghalang untuk meneruskan shalatnya secara berjama&rsquo;ah adalah khawatir diwajibkan. Dan ketakutan tersebut kini telah hilang dengan wafatnya Rasulullah<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>. Karena setelah beliau&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>wafat, wahyu terputus, maka dengan demikian telah aman dari (turunnya wahyu) untuk mewajibkannya. Ketika&nbsp;<em>illat<\/em>&nbsp;(sebab suatu hukum) telah hilang yaitu takut diwajibkan dengan terputusnya wahyu, maka itu berarti harus kembali kepada ke sunnah (semula).\" (Silakan lihat&nbsp;<em>Syarhu Al-Mumti<\/em>, karangan Syekh Ibnu Utsaimin, 4\/78).<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Imam Ibnu Abdul Bar&nbsp;<em>rahimahullah<\/em>&nbsp;berkata: &ldquo;Hadits tersebut menunjukkan bahwa qiyam Ramadan merupakan salah satu sunnah Nabi&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>, disunnahkan dan dianjurkannya. Bukan &nbsp;Umar bin Khattab yang mengadakan sunnah tersebut, dia cuma sekedar menghidupkannya. Sesuatu yang disukai dan diridai Rasulullah&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>, sebab tidak ada yang menghalangi &nbsp;beliau untuk terus menerus melakukannya selain kekhawatirannya hal tersebut diwajibkan kepada umatnya. Dan beliau &ndash;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>&nbsp;&ndash; dikenal&nbsp; sangat mengasihi dan menyangi orang-orang &nbsp;mukmin.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Maka ketika Umar mengetahui hal tersebut&nbsp; dari Rasulullah&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>&nbsp;dan mengetahui bahwa kewajiban-kewajiban tidak boleh ditambah dan tidak boleh berkurang sepeninggal beliau&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>, Maka beliau kembali melakukan dan menghidupkan shalat Taraweh berjamah &nbsp;Hal itu terjadi pada tahun empat belas hijriyah,&nbsp; sebagai karunia dan keutamaan &nbsp;Allah padanya. (<em>At-Tamhid<\/em>, 8\/108-109)<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Para shahabat&nbsp;<em>radhiallahu&rsquo;anhum<\/em>&nbsp;sepeninggal Nabi&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>menunaikan Taraweh secara berkelompok-kelompok dan sendiri-sendiri sampai Umar mengumpulkan mereka dengan satu Imam.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Abdurrhaman bin Abdun Al-Qari berkata: &ldquo;Suatu malam di bulan Ramadan, aku bersama Umar berangkat menuju ke masjid. Ternyata orang-orang shalat berpencar-pencar. Ada yang shalat seorang diri, dan ada yang shalat dengan sejumlah orang yang mengikuti. Maka beliau berkata: &ldquo;Demi Allah, sesungguhnya aku berpandangan, lebih baik kalau mereka dikumpulkan di belakang satu&nbsp;<em>qari<\/em>(imam). Setelah keinginan beliau bulat, mereka dikumpulkan dengan imam Ubay bin Ka&rsquo;b. Kemudian saya keluar lagi bersama Umar pada malam lain. Sementara (kini) orang-orang menunaikan shalat dengan satu&nbsp;<em>qari<\/em>&nbsp;(imam). Maka Umat berkomentar:&nbsp; &ldquo;Inilah sebaik-baik bid&rsquo;ah (sesuatu yang baru), waktu yang mereka gunakan untuk tidur (akhir malam) lebih baik dibandingkan waktu yang mereka gunakan untuk shalat &ndash;maksudnya akhir malam-. Pada awalnya, orang-orang waktu itu menunaikan shalat pada awal malam.\" &nbsp;(HR. Bukhari, no. 1906)<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Syaikhul Islam berkata &ndash;ketika membantah orang membolehkan bid'ah dengan argumen perkataan Umar: Inilah sebaik-baik bid&rsquo;ah-, &ldquo;Adapun qiyam Ramadan&nbsp; (Taraweh), sesungguhnya Rasulullah&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam&nbsp;<\/em>&nbsp;telah menganjurkan kepada umatnya. Beliau shalat dengan (para shahabat) secara berjama&rsquo;ah beberapa malam. Mereka pada masanya menunaikan (shalat qiyam) secara berjama&rsquo;ah dan seorang diri. Akan tetapi beliau tidak terus menerus melaksanakan dalam satu jama&rsquo;ah agar tidak diwajibkan kepada umatnya. Ketika beliau wafat, maka syariat menjadi baku (tidak berubah). Pada masa (kekhalifahan) Umar&nbsp;<em>radhiallahu&rsquo;anhu<\/em>, beliau mengumpulkan (jamaah shalat Taraweh) dengan satu imam, yaitu Ubay bin Ka&rsquo;b. Orang-orang shalat di belakangnya atas perintah Umar bin Khatab&nbsp;<em>radhiallahu&rsquo;anhu<\/em>. Dan Umar<em>radhiallahu&rsquo;anhu<\/em>&nbsp;adalah salah seorang&nbsp;<em>Khulafaur Rasyidin<\/em>, yang Rasulullah<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>&nbsp;bersabda tentang mereka: &ldquo;Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah&nbsp;<em>Khulafaur Rasyidin<\/em>&nbsp;yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah dengan gigi geraham.\" Karena ia adalah pegangan yang sangat kuat. Karena yang beliau laksanakan adalah sunnah Nabi, sedangkan beliau berkata: &ldquo;Inilah sebaik-baik bid&rsquo;ah.&rdquo; Maka yang dimaksud&nbsp; bid&rsquo;ah di sini adalah dari sisi bahasa, karena mereka melaksanakan apa yang tidak mereka lakukan pada masa kehidupan Rasulullah&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>&nbsp;yaitu berkumpul seperti demikian. Maka dia termasuk salah satu ajaran dalam syariat.&rdquo; (<em>Majmu Fatawa<\/em>, 22\/ 234, 235)<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Sebagai tambahan, silakan merujuk soal, no.&nbsp;&nbsp;<a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/45781\">45781<\/a>&nbsp;dan&nbsp;<a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/21740\">21740<\/a>.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Kedua: Mengkhatamkan Al-Qur&rsquo;an di bulan Ramadan, baik dalam shalat maupun di luar shalat adalah perkara yang terpuji bagi pelakunya. Sungguh terdapat riwayat bahwa Jibril&nbsp;<em>alaihis salam&nbsp;<\/em>bertadarus &nbsp;&nbsp;Al-Qur&rsquo;an bersama Nabi&nbsp;<em>sallallahu &lsquo;alaihi wa sallam<\/em>&nbsp;pada setiap bulan Ramadan. Bahkan pada pada tahun beliau wafat, beliau bertadarus dengannya dua kali.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Hal ini telah dijelasan pada soal jawab, no.&nbsp;<a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/66504\">66504<\/a>.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Wallahu &lsquo;alam.<\/span><\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\"><span style=\"font-size: large;\">Soal Jawab Tentang Islam<\/span><\/div>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>","status":1,"created_at":"2015-05-22T06:00:00.000000Z","updated_at":"2015-05-22T06:00:00.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":23,"parent_id":5312,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"The Quraan and its Sciences - General","category_slug":"","get_date":"2015-05-22"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/5316"}