{"fatawa":{"id":6748,"title":"Manakah Yang Lebih Utama, Membaca Surat Al-Qur\u2019an Dengan Tadabur Dan Pemahaman Atau Membaca Al-Qur\u2019an Semuanya Tanpa Tadabur?","slug":"manakah-yang-lebih-utama-membaca-surat-al-quran-dengan-tadabur-dan-pemahaman-atau-membaca-al-quran-semuanya-tanpa-tadabur","order":"","question":"Apakah ada hadits yang disabdakan oleh Rasulullah sallallahu\u2019alaihi wa sallam bahwa orang yang membaca surat Al-Ashr dengan penuh perhatian dan pamahaman itu lebih utama dibandingkan dengan membaca Al-Qur\u2019an secara sempurna tanpa dipahami?","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\" style=\"text-align: center;\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Alhamdulillah<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Pertama,<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Tidak ada hadits shahih terkait keutamaan surat &lsquo;Al-Ashr&rsquo; sedikitpun kecuali bahwa dia termasuk surat mufashal. Dalam kitab &lsquo;Mausu&rsquo;ah Fadha'il Suar Wa Ayatil Qur&rsquo;an&rsquo; (Al-Qismu As-Shahih, 2\/319), dinyatakan: &ldquo;Tidak ada sedikitpun (riwayat) yang shahih (tentang surat Al-Ikhlash, kecuali bahwa dia termasuk dari (surat) Al-Mufashshal.&rdquo;&nbsp;<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Seorang Peneliti wanita; Amal As-Sa&rsquo;di mengatakan, &ldquo;Tidak ada sedikitpun keutamaan yang shahih tentang surat Al-Ashr dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Beberapa riwayat tentang keutamaannya adalah lemah dan palsu. Diantaranya,<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\"Barangsiapa yang membaca surat Al-Ashr maka Allah Akan mengampuninya. Dan dia termasuk orang yang saling memberi nasehat dalam kebenaran dan kesabaran.&rdquo; (Ash-Shahih Was Saqim Fi Fadhailil-Qur&rsquo;an Al-Karim, hal. 96)<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Kedua,<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Kami akan nukilkan di sini perkataan berharga dari Al-Allamah Ibnu Al-Qayyim rahimahullah yang menjelaskan di dalamnya pendapat para ulama terkait dengan yang lebih utama antara bacaan Al-Qur&rsquo;an sedikit dengan tadabur dan pemahaman dengan bacaan Al-Qur&rsquo;an banyak tanpa tadabur dan berfikir.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan, &ldquo;Orang-orang berbeda pendapat, mana lebih utama antara membaca tartil dengan sedikit bacaan atau membaca cepat dengan bacaan banyak, manakah yang paling utama. Ada dua pendapat;<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Ibnu Mas&rsquo;ud, Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dan selain dari keduanya berpendapat bahwa tartil dengan tadabbur meskipun sedikit bacaannya itu lebih utama dibandingkan dengan mempercepat dan mendapatkan banyak bacaan.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Pendapat ini berdalil bahwa maksud dari bacaan adalah memahami, mentadaburi, mendalami dan beramal dengannya. Sementara tilawah dan hafalannya merupakan sarana menuju (maknanya). Sebagaimana ungkapan sebagian ulama&rsquo; salaf, &ldquo;Al-Qur&rsquo;an diturunkan untuk diamalkan, sehingga mereka menjadikan tilwahnya untuk beramal. Oleh karena itu ahli Al-Qur&rsquo;an adalah orang-orang yang berpengetahuan dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Meskipun mereka tidak hafal di luar kepala. Sementara orang yang telah hafal, sementara tidak faham dan tidak mengamalkannya, maka dia bukan termasuk ahlinya. Meskipun mereka menunaikan hak hurufnya dengan teliti. Mereka mengatakan, &ldquo;Karena keimanan adalah amalan terbaik, sementara memahami dan mentadaburi Al-Qur&rsquo;an adalah buah dari keimanan. Adapun kalau hanya sekedar dibaca tanpa dipahami dan ditadaburi, itu dilakukan oleh orang baik, orang buruk, orang mukmin dan orang munafik. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">( \u0648\u0645\u062b\u0644 \u0627\u0644\u0645\u0646\u0627\u0641\u0642 \u0627\u0644\u0630\u064a \u064a\u0642\u0631\u0623 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0643\u0645\u062b\u0644 \u0627\u0644\u0631\u064a\u062d\u0627\u0646\u0629 : \u0631\u064a\u062d\u0647\u0627 \u0637\u064a\u0628 \u060c \u0648\u0637\u0639\u0645\u0647\u0627 \u0645\u0631 ).<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">&ldquo;Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur&rsquo;an adalah seperti buah Raihanah, baunya sedap, tetapi rasanya pahit.&rdquo;<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Orang-orang dalam hal ini ada empat tingkatan; Pertama, ahlu Al-Qur&rsquo;an dan Iman, mereka adalah orang yang&nbsp; terbaik. Kedua, tidak punya Al-Qur&rsquo;an dan Keimanan. Ketiga, orang yang diberi Al-Qur&rsquo;an tapi tidak diberi keimanan. Keempat, orang yang diberi keimanan dan tidak diberi Al-Qur&rsquo;an.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Mereka mengatakan, &ldquo;Sebagaimana orang yang diberi keimanan tanpa Al-Qur&rsquo;an itu lebih utama dibandingkan orang yang diberi Al-Qur&rsquo;an tanpa Keimanan. Begitu juga orang yang melakukan tadabur dan pemahaman dalam tilawah itu lebih utama dibandingkan orang yang banyak membaca dengan cepat tanpa tadabur.\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Mereka menambahi lagi, &ldquo;Ini adalah petunjuk Nabi sallallahu alaihi wa sallam, biasanya beliau membaca surat dengan tartil sampai (surat) terpanjang yang ada. Beliau membaca satu ayat sampai subuh.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Para ulama pengikut mazhab&nbsp; Syafi&rsquo;i rahimahumullah mengatakan, &ldquo;Bacaan yang banyak itu lebih utama, mereka berdalil dengan hadits Ibnu Mas&rsquo;ud radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\u0645\u0646 \u0642\u0631\u0623 \u062d\u0631\u0641\u0627 \u0645\u0646 \u0643\u062a\u0627\u0628 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0641\u0644\u0647 \u0628\u0647 \u062d\u0633\u0646\u0629 \u060c \u0648\u0627\u0644\u062d\u0633\u0646\u0629 \u0628\u0639\u0634\u0631 \u0623\u0645\u062b\u0627\u0644\u0647\u0627 \u060c \u0644\u0627 \u0623\u0642\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0645 \u062d\u0631\u0641 \u060c \u0648\u0644\u0643\u0646 \u0623\u0644\u0641 \u062d\u0631\u0641 \u060c \u0648\u0644\u0627\u0645 \u062d\u0631\u0641 \u060c \u0648\u0645\u064a\u0645 \u062d\u0631\u0641 (\u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u062a\u0631\u0645\u0630\u064a \u0648\u0635\u062d\u062d\u0647)<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">&ldquo;Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka dia mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Saya tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.&rdquo; (HR. Tirmizi, dia menyatakan shahih)<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Mereka mengatakan, &ldquo;Karena Utsman bin Affan radhiallahu anhu membaca (seluruh) Al-Qur&rsquo;an dalam satu rakaat. Dan mereka juga menyebutkan banyak riwayat dari ulama salaf tentang bacaan yang banyak.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Yang benar dalam masalah ini dapat dikatakan, &ldquo;Bahwa pahala bacaan secara tartil dan tadabur itu lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya. Sementara pahala bacaan yang banyak itu lebih banyak bilangannya. Yang pertama bagaikan bersodaqah dengan perhiasan mulia atau memerdekakan budak yang harganya mahal sekali. Sementara kedua bagaikan orang yang bershoodaqah dengan dirham yang banyak atau memerdekakan banyak budak yang harganya murah.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Dalam &lsquo;Shahih Bukhari&rsquo; dari Qatadah dia berkata, saya menanyakan Anas tentang bacaan Nabi sallallahu alaihi wa sallam, maka beliau mengatakan, &ldquo;Beliau biasanya membacanya dengan baik (tartil).&rdquo;<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Syu&rsquo;bah mengatakan, Abu Hamzah memberitahukan kepada kami, saya bertanya kepada Ibnu Abbas. Sesungguhnya saya cepat dalam membaca. Terkadang saya dapat membaca dalam semalam sekali atau dua kali (hatam). Maka Ibnu Abbas berkata, &ldquo;Jika saya membaca satu surat itu lebih saya sukai dibandingkan seperti apa yang anda lakukan. Jika harus anda lakukan, maka bacalah bacaan yang terdengar oleh telinga anda dan dipahami hati anda.\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Ibrahim mengatakan, &ldquo;Al-Qomah membacakan (Al-Qur&rsquo;an) dihadapan Ibnu Mas&rsquo;ud &ndash;beliau bagus suaranya- maka beliau mengatakan, &ldquo;Bacalah secara tartil. Sungguh, karena hal itu termasuk menghiasi Al-Qur&rsquo;an.\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Ibnu Mas&rsquo;ud radhiallahu anhu mengatakan, &ldquo;Jangan mempercepat bacaan Al-Qur&rsquo;an (seperti membaca) syair. Dan jangan disebarkan (seperti) menyebarkan kurma jelek. Renungilah keindahannya, gerakkan hati dengannya. Jangan sampai target kalian hanyalah akhir surat.<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Abdullah juga mengatakan, &ldquo;Kalau anda mendengar Allah berfirman ( \u064a\u0623\u064a\u0647\u0627 \u0627\u0644\u0630\u064a\u0646 \u0622\u0645\u0646\u0648\u0627 ) maka pasang telinga anda, bisa jadi ia merupakan suatu kebaikan yang Dia perintahkan atau keburukan yang Dia larang. &ldquo;<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">(Zadul Ma&rsquo;ad, 1\/337-340. Silahkan melihat jawaban soal no.&nbsp;<a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/4040\">4040<\/a>, 131788)<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Wallahua'lam.<\/span><\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\"><span style=\"font-size: large;\">Soal Jawab Tentang Islam<\/span><\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>","status":1,"created_at":"2015-05-22T06:00:00.000000Z","updated_at":"2015-05-22T06:00:00.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":29,"parent_id":6747,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u0645\u0635\u0637\u0644\u062d \u0627\u0644\u062d\u062f\u064a\u062b","category_slug":"","get_date":"2015-05-22"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/6748"}