{"fatawa":{"id":9409,"title":"JIKA MEMBERIKAN SYARAT TIDAK MENIKAH LAGI, APAKAH HARUS DIPENUHI","slug":"jika-memberikan-syarat-tidak-menikah-lagi-apakah-harus-dipenuhi","order":"","question":"<p>Pertanyaan-pertanyaanku adalah; <br \/> 1- Apakah apa informasi pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam  bahwa mereka memberikan syarat kepada suami saat akad nikah bahwa dia  tidak boleh menikah dengan wanita yang lain. Bukankah hal tersebut  merupakan bentuk pengharaman apa yang Allah halalkan? <br \/> 2- Jika seoranag suami telah berjanji kepada isterinya agar tidak  menikah lagi saat hubungan mereka masih sah sebagai suami isteri, apakah  dia harus menepatinya? Ataukah dia masih berhak menikah lagi dengan  wanita lain? Perlu diketahui bahwa janji tersebut telalu berlalu sekian  tahun setelah pernikahan. Maksudnya tidak tertera dalam akad pernikahan.   <br \/> 3- Jika jawaban dalam soal kedua adalah 'Ya', apakah janji tersebut  tergolong perkara yang harus ditepati walaupun terlaksana di bawah  tekanan?  <br \/> 4- Apakah sang suami berdoa jika tidak memenuhi janjinya terhadap isteri pertama dengan melangsungkan pernikahan keduanya?<\/p>","answer":"<div id=\"date-i\">Thu 16 Rb2 1436 - 5 February 2015<\/div>\r\n<div id=\"content\">\r\n<div id=\"outer-container\">\r\n<div id=\"subject-container\">\r\n<div class=\"qtitle\">JIKA MEMBERIKAN SYARAT TIDAK  MENIKAH LAGI, APAKAH HARUS DIPENUHI<\/div>\r\n<div id=\"available-trans\"><span class=\"available-trans\"><a title=\"English\" href=\"http:\/\/islamqa.info\/en\/143120\">en<\/a><\/span><span class=\"available-trans\"><a title=\"\u0639\u0631\u0628\u064a\" href=\"http:\/\/islamqa.info\/ar\/143120\">ar<\/a><\/span><span class=\"available-trans\"><a title=\"Fran&ccedil;ais\" href=\"http:\/\/islamqa.info\/fr\/143120\">fr<\/a><\/span><span class=\"available-trans\"><a title=\"\u4e2d\u6587\" href=\"http:\/\/islamqa.info\/zh\/143120\">zh<\/a><\/span><\/div>\r\n<div class=\"question\">Pertanyaan-pertanyaanku adalah; <br \/> 1- Apakah apa informasi pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam  bahwa mereka memberikan syarat kepada suami saat akad nikah bahwa dia  tidak boleh menikah dengan wanita yang lain. Bukankah hal tersebut  merupakan bentuk pengharaman apa yang Allah halalkan? <br \/> 2- Jika seoranag suami telah berjanji kepada isterinya agar tidak  menikah lagi saat hubungan mereka masih sah sebagai suami isteri, apakah  dia harus menepatinya? Ataukah dia masih berhak menikah lagi dengan  wanita lain? Perlu diketahui bahwa janji tersebut telalu berlalu sekian  tahun setelah pernikahan. Maksudnya tidak tertera dalam akad pernikahan.   <br \/> 3- Jika jawaban dalam soal kedua adalah 'Ya', apakah janji tersebut  tergolong perkara yang harus ditepati walaupun terlaksana di bawah  tekanan?  <br \/> 4- Apakah sang suami berdoa jika tidak memenuhi janjinya terhadap isteri pertama dengan melangsungkan pernikahan keduanya?<\/div>\r\n<br \/> <br \/>\r\n<div class=\"answer\">\r\n<p>Alhamdulillah<\/p>\r\n<p>Pertama.<\/p>\r\n<p>Kalau wanita memberikan syarat kepada      suaminya agar tidak kawin lagi, maka syarat ini sah dan harus dipenuhi.      Kalau sang suami kawin lagi, maka sang wanita berhak menuntut fash      (berpisah). Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, 2721 dan Muslim, 1418.      Sesungguhnya Rasulullah sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\r\n<p>\u0623\u064e\u062d\u064e\u0642\u0651\u064f \u0627\u0644\u0634\u0651\u064f\u0631\u064f\u0648\u0637\u0650 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064f\u0648\u0641\u064f\u0648\u0627 \u0628\u0650\u0647\u0650      \u0645\u064e\u0627 \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u062d\u0652\u0644\u064e\u0644\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0641\u064f\u0631\u064f\u0648\u062c\u064e<\/p>\r\n<p><em>&ldquo;Syarat yang paling layak untuk dipenuhi      adalah apa menyebabkan kemaluannya menjadi halal bagi kalian (syarat dalam      pernikahan).&rdquo;<\/em><\/p>\r\n<p>Rasulullah sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam juga      bersabda:<\/p>\r\n<p>\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064f\u0648\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0634\u064f\u0631\u064f\u0648\u0637\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u060c      \u0625\u0650\u0644\u0627 \u0634\u064e\u0631\u0652\u0637\u064b\u0627 \u062d\u064e\u0631\u0651\u064e\u0645\u064e \u062d\u064e\u0644\u0627\u0644\u0627 \u060c \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0623\u064e\u062d\u064e\u0644\u0651\u064e \u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u064b\u0627&nbsp; (\u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u062a\u0631\u0645\u0630\u064a (1352)      \u0648\u0623\u0628\u0648 \u062f\u0627\u0648\u062f (3594) \u0648\u0635\u062d\u062d\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0644\u0628\u0627\u0646\u064a \u0641\u064a \u0635\u062d\u064a\u062d \u0627\u0644\u062a\u0631\u0645\u0630\u064a)<\/p>\r\n<p><em>&ldquo;Orang Islam itu selalu berpedoman pada      syaratnya, kecuali syarat yang mengharamkan halal atau menghalalkan haram.&rdquo;<\/em>&nbsp;      (HR. Tirmizi, 1352. Abu Daud, 3594 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam      shahih At-Tirmizi.<\/p>\r\n<p>Syarat tersebut tidak mengharamkan yang      halal, cuma membatasi&nbsp; wewenang laki-laki sehingga istri mempunyai hak untuk      pisah. Persyaratan seperti ini sudah pernah terjadi pada masa shahabat.      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: &ldquo;Karena seseorang      menikahi wanita dengan syarat agar tidak kawin lagi, maka masalah itu      diadukan kepada Umar. Lalu beliau berkata, \"Hak-hak diputuskan sesuai&nbsp;      persyaratan.&rdquo;<\/p>\r\n<p>Al-Fatawa Al-Kubro, 3\/124.<\/p>\r\n<p>Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:      &ldquo;Sekumpulan itu bahwa syarat dalam nikha dibagi menjadi tiga bagian, salah      satunya adalah apa yang harus ditepati. Yaitu apa yang kembali kepada      (wanita) kemanfaatan dan faedah. Seperti dia boleh mensyaratkan agar tidak      dikeluarkan dari rumahnya, negara, atau agar tidak bepergian dengannya,      tidak menikah dengannya atau berkumpul (berbulan madu) dengannya maka, ini      harus dipenuhi. Kalau tidak melakukannya, dia (wanita) dapat menfasakh      (membatalkan) pernikahannya. Ini diriwayatkan dari Umar bin Khottob      radhiallahu&rsquo;anhu, Saad bin Abi Waqqas, Muawiyah, Amr bin Ash      radhiallahu&rsquo;anhum. Ini termasuk pendapat Syuraikh, Umar bin Abdul Aziz,      Jabir bin Zaid, Thowus, Al-Auza&rsquo;i, Ishaq. Sementara yang membatalkan syarat      ini adalah Az-Zuhri, Qatadah, Hisyam bin Urwah, Malik, AL-Laits, Ats-Tsauri,      Syafii, Ibnu AL-Munzir dan pengikut logika (rakyu). Selesai dari kitab      &lsquo;Al-Mugni, 9\/483.<\/p>\r\n<p>Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah      ditanya tentang lelaki menikah dengan wanita, sementara (wanita)      mensyaratkan agar tidak kawin lagi, tidak dipindah dari rumahnya, bersama      dengan ibunya dan dia menyetujuinya. Apakah dia diharuskan menepati janji.      Kalau menyeleweng dari persyaratan ini, apakah istri diperbolehkan fash      (pisah) atau tidak?<\/p>\r\n<p>Beliau&nbsp; menjwab: &ldquo;Ya. Syarat ini sah dan yang      semaknanya dalam mazhab Imam Ahmad dan lainnya dari kalangan shahabat dan      tabiin, seperti Umar bin Khottob, Amr bin Ash, Syuraikh AL-Qodhi, AL-Auza&rsquo;i,      dan Ishaq. Sementara mazhab Malik, kalau dia mensyaratkan &lsquo;kalau kawin lagi&rsquo;      atau berkumpul (berbulan madu) maka urusannya ada ditangannya (wanita) atau      pendapatnya atau semisal itu. maka syarat itu sah juga. Dan wanita memiliki      hak untuk pisah pada dirinya. hal itu semakna dalam mazhab Ahmad. Hal itu      sebagaimana yang dikeluarkan dalam shohehain dari Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa      sallam bahwa beliau bersabda:<\/p>\r\n<p>( \u0625\u0646 \u0623\u062d\u0642 \u0627\u0644\u0634\u0631\u0648\u0637 \u0623\u0646 \u062a\u0648\u0641\u0648\u0627 \u0628\u0647 \u0645\u0627      \u0627\u0633\u062a\u062d\u0644\u0644\u062a\u0645 \u0628\u0647 \u0627\u0644\u0641\u0631\u0648\u062c )<\/p>\r\n<p>&lsquo;Sesungguhnya syarat yang paling berhak ditepati adalah apa yang menjadikan      halal bagi kemaluan&rsquo;<\/p>\r\n<p>Umar bin Khottoba rahiallahu&rsquo;anhu berkata:      \"Hak-hak diputuskan sesuai&nbsp; persyaratan.&rdquo; Maka Nabi sallallahu&rsquo;alaihi wa      sallam telah menjadikan apa yang jadi halal untuk kemaluan yang mana ia      merupakan bagian dari syarat itu lebih berhak untuk ditepati daripada yang      lainnya. Selesai dari kitab &lsquo;AL-Fatawa Al-Kubro, 3\/90.<\/p>\r\n<p>Kedua,<\/p>\r\n<p>Syarat-syarat ini dianggap jikalau telah      terjadi kesepakan dengan (wanita) waktu akad nikah. Kalau dia tanda tangan      setelah akad, maka itu merupakan janji. Maka istri tidak diberi hak fasakh      (pisah). Akan tetapi bagi suami diharuskan menepati janjinya. Dikarenakan      keumuman dalil yang menyuruh untuk menepati janji. Seperti firman Allah      ta&rsquo;ala, &lsquo;Dan penuhilah janji;      sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. SQ. Al-Israa&rsquo;:      34. Dan sabda Rasulullah sallallahu&rsquo;alaihi wa sallam,<\/p>\r\n<p>(\u0627\u0636\u0645\u0646\u0648\u0627 \u0644\u064a \u0633\u062a\u0627 \u0645\u0646 \u0623\u0646\u0641\u0633\u0643\u0645 \u0623\u0636\u0645\u0646 \u0644\u0643\u0645      \u0627\u0644\u062c\u0646\u0629 : \u0627\u0635\u062f\u0642\u0648\u0627 \u0625\u0630\u0627 \u062d\u062f\u062b\u062a\u0645 \u060c \u0648\u0623\u0648\u0641\u0648\u0627 \u0625\u0630\u0627 \u0648\u0639\u062f\u062a\u0645 \u060c \u0648\u0623\u062f\u0648\u0627 \u0625\u0630\u0627 \u0627\u0626\u062a\u0645\u0646\u062a\u0645 \u060c \u0648\u0627\u062d\u0641\u0638\u0648\u0627      \u0641\u0631\u0648\u062c\u0643\u0645 \u060c \u0648\u063a\u0636\u0648\u0627 \u0623\u0628\u0635\u0627\u0631\u0643\u0645 \u060c \u0648\u0643\u0641\u0648\u0627 \u0623\u064a\u062f\u064a\u0643\u0645) \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0623\u062d\u0645\u062f (22251) \u0648\u062d\u0633\u0646\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0644\u0628\u0627\u0646\u064a \u0641\u064a      \u0635\u062d\u064a\u062d \u0627\u0644\u062c\u0627\u0645\u0639 \u0628\u0631\u0642\u0645 (1018)<\/p>\r\n<p>&ldquo;Jaminlah      diriku enam hal dari diri kamu semua, maka saya akan jamin kamu semua dengan      surga, jujurlah ketika berbicara, penuhi (janji) kalau berjanji, tunaikan      (amanat) kalau diberi amanat, jagalah kemaluan, tundukkan pandangan dan      tahan tangan kalian. HR. Ahmad, 22251. Dihasankan oleh Al-Bany di shoheh      AL-Jami&rsquo; no. 1018.<\/p>\r\n<p>Karena      tidak menepati janji termasuk diantara sifatnya orang munafiq. Silahkan      melihat soal jawab no. <a href=\"http:\/\/islamqa.info\/id\/30861\">30861<\/a>.<\/p>\r\n<p>Wallahu&rsquo;alam.<\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\">Soal Jawab Tentang Islam<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>","status":1,"created_at":"2015-02-05T21:51:58.000000Z","updated_at":"2015-02-05T21:51:58.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":37,"parent_id":9405,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"\u0623\u062d\u0643\u0627\u0645 \u0627\u0644\u0646\u0643\u0627\u062d","category_slug":"","get_date":"2015-02-05"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/www.islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/9409"}